MULTI PERAN SEORANG PELATIH

MULTI PERAN SEORANG PELATIH

Tuntutan Peran Seorang Pelatih

Banyak kali kita mendengar orang dengan bangga mengatakan dirinya sebagai pelatih atau coach. Ya, patut dan haruslah demikian. Menjadi pelatih adalah sebuah privilese, keistimewaan yang juga sekaligus sebuah beban. Keistimewaan itu melekat dan bersama banyak hak, sementara itu tersandang juga sejumlah kewajiban yang tak terpisahkan dan seringkali merupakan efek bolak-balik.

Seorang pelatih selayaknya mendapat respek, namun sang pelatih harus membuktikan bahwa ia memang patut mendapat respek. Harus mampu membuktikan bahwa sang pelatih memang layak menyandang gelar pelatih.

Gelar pelatih secara otomatis membuatnya harus menjalani beberapa peran sekaligus. Sebagai ayah/ ibu, pengarah, guru, pengasuh, pembelajar, pencatat, tempat bertanya (ensiklopedi berjalan), panutan, pemimpin, pelayan, sosok model/ teladan, penguat mental, teman, penolong, pengawas, hakim, pendukung, perawat, motivator, dan lain sebagainya.

Saat awal melatih dulu tak banyak yang saya tahu tentang ilmu kepelatihan, setelah mulai belajar makin banyak pula yang tidak saya ketahui. Saya hanya melatih dengan meniru segala sesuatu yang pernah saya terima dari pelatih saya. Setelah dilatih oleh beberapa pelatih, secara otomatis mulailah berproses membanding-bandingkan mereka. Intinya semua baik, namun ada cara yang cocok untuk situasi dan anak didik tertentu dan ada yang tidak.

Pada sebuah proses pelatihan yang efektif, terpusat atau tidak, ada 4 macam aspek materi yang harus perhatikan yaitu: aspek latihan fisik, aspek asupan nutrisi (termasuk penataan istirahat agar asupan nutri berjalan efektif), aspek latihan teknik dan aspek pembinaan mental.

Untuk menjadi pelatih yang baik, sekurangnya memahami dasar-dasar ilmu anatomi fisiologi tubuh (meliputi pula proses-proses pernafasan, pencernaan, peredaran darah, biomekanik, kinetik, , dll), ilmu nutrisi (termasuk energetika), psikologi, statistika, dan ilmu lain dalam lingkup keolahragaan seperti tes dan pengukuran, kebugaran, penanganan cedera, periodisasi latihan, unsur-unsur biomotorik, dan seiring perkembangan jaman mau tak mau memahami pula teknologi informatika, dan lain sebagainya. Terlalu rumit? terlalu banyak menuntut? iya, benar dan demikianlah kenyataannya. Itu pula sebabnya sekarang tercipta berbagai bidang spesialisasi pelatihan. Ada pelatih spesialis physical conditioning, spesialis plyometrik, spesialis periodisasi latihan, Itu pula yang membuat menjamurnya lembaga konsultan pelatihan yang terdiri dari dokter spesialis olahraga, psikolog olahraga, ahli tes dan pengukuran biometrik, ahli biomekanik dan kinetik, hingga motivator profesional.

Seiring dengan perkembangan olahraga profesional, bukan hanya atlet yang dituntut lebih profesional, demikian pula para pelatih. Beberapa cabang olahraga kini melibatkan unsur bisnis dan mencakup perputaran uang yang sangat besar. Seorang atlet elite unggulan bisa dibayar hingga ratusan milyar, kalangan demikian tentunya meminta jasa kepelatihan yang elite pula. Serba kelas satu dan menerapkan teknologi tertinggi dalam olahraga. Mampukah kita menjangkau level demikian? Tidak mudah tentunya. Tapi paling tidak, perkembangan profesionalisme dan teknologi membuat banyak ilmu pengetahuan yang mereka propagandakan menyebar luas lewat internet dan berbagai publikasi. Dengan mudahnya siapa saja bisa mengunduh berbagai bahan. Cocokkah bahan-bahan dari mereka itu kita terapkan? tentu tidak semuanya. Namun celakanya tidak semua pelatih tahu mana teknologi dari internet yang bisa diterima dan diterapkan atau tidak.

Contohnya saja penerapan plyometrik yang belakangan populer di kalangan olahraga. Tanpa pengetahuan yang memadai, penerapannya pada anak didik malah bisa menjadi bumerang. Bukannya membuat performa atlet kita menjadi lebih baik, salah-salah malah jadi rusak. Penerapan plyometrik yang berarti “peningkatan secara terukur” harus diterapkan secara terukur dan spesifik, bisa diterapkan pada level usia, tertentu, kesiapan fisik tertentu dan kematangan psikologis tertentu. Tanpa pemahaman yang benar anatomi dan fisiologi tubuh, tes dan pengukuran, pencegahan cedera, asupan nutrisi, serta pemrograman yang spesifik; lebih baik jangan bereksperimen dengan anak didik kita.

Seorang pelatih yang bijaksana takkan pernah berhenti belajar dari mana saja, termasuk atlet binaannya. Tak pernah berhenti memetik dan juga merenung. Senantiasa belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun belajar dari pengalaman pelatih lainnya. Ia juga senantiasa terbuka dan bersedia mencerna berbagai pengetahuan baru, menyerap yang bermanfaat dan membuang yang tidak berguna.

Apakah sebenarnya hal pertama yang kita pelajari kala kita mulai melatih? Menurut hemat saya, hal pertama yang kita pelajari adalah atlet binaan kita itu sendiri. Mulai dari siapa dia? tumbuh dimana dan bagaimana riwayatnya? sebagaimana bugarkah dia? bagaimana ukuran-ukuran kemampuan geraknya? sebagaimana matang tekniknya, apa yang kurang dan apa yang lebih?

Setelah menjawab pertanyaan observatif tersebut secara terukur, mulailah kita melakukan sejumlah analisa untuk menelaah apa-apa yang harus kita berikan dengan terlebih dahulu menyusun urutannya secara rasional dan bertanggungjawab.

Pertanyaan berikut, bagaimana kita menerapkannya? Kapan mulai dan kapan berhenti? Seberapa intensif, berapa ukuran intensitasnya? Bagian spesifik apa yang menjadi prioritas? Tentunya jawaban-jawabannya tersusun pada sebuah program yang secara rinci menguraikan detil-detil program yang tersusun dalam periodisasi spesifik.

Sepanjang eksekusi program, seorang pelatih tak henti-hentinya mengamati, mengukur, mengoreksi, mengarahkan, membina, memotivasi sekaligus mengasuh anak didiknya agar senantiasa serius dan fokus. Tak mudah melakoni semua itu secara berbarengan. Menuntut pencurahan perhatian penuh dari sang pelatih. Pencurahan penuh akan menimbulkan masalah baru bagi beberapa pelatih, bagaimana dengan tuntutan lain selain pelatihan? Tuntutan ekonomi, tuntutan peran lain sebagai ayah, tuntutan peran sebagai suami, dan lain sebagainya. Jika dilakukan secara amatiran, bisa-bisa malah semua berjalan tak maksimal. Jika dilakukan secara profesional, apakah imbalan yang didapatnya cukup untuk menutupi semua kebutuhan lain? Mungkin hanya sedikit dari kalangan elite yang bisa menjawab ya, dan jika terjawab tidak; bisa kita bayangkan pengorbanan seorang pelatih.

Dibilang cukup atau tidak, tentu sulit diukur, namun saya meyakini, jika bukan karena cinta, takkan tercurah dedikasi.

Pelatih yang Mantan Atlet atau Pelatih yang Sekolahan?

Kenapa banyak atlet yang kemudian jadi pelatih? Pada banyak kejadian yang saya lihat, beberapa di antaranya terjadi karena sifat kompetitif seorang mantan atlet yang sudah lewat usia prestasi tapi masih ingin berkompetisi. Maka ia menjadikan proses pelatihan sebagai kompensasi, menyalurkan hasrat berkompetisi lewat anak didiknya. Faktor lain mungkin karena kecintaan dan dedikasi pada olahraga yang dicintainya itu. Ha ha ha … ini hanya sebuah sudut pandang pribadi saya, tidak terbukti secara empirik dan belum pernah pula diteliti.

Pada banyak cabang olahraga, banyak pelatih sukses adalah mantan atlet yang kemudian sekolah untuk mendapatkan lisensi (yang konon kabarnya, di belahan barat sana amatlah sulitnya). Asisten-asisten merekalah yang pelatih yang benar-benar sekolah (olahraga). Sementara berteman dengan beberapa teman yang juga sarjana olahraga, saya mengamati bahwa ilmu keolahragaan sang mantan atlet jelas kalah jauh, hanya saja teman yang sarjana olahraga itu tidak se”pede” teman yang mantan atlet. Teman pelatih saya yang mantan atlet terlihat amat menguasai lapangan, bahkan para pemain binaannya sudah respek duluan dengan reputasi sang pelatih yang mantan atlet. Padahal kalau bicara ilmu-ilmu olahraga dia tak sepandai pelatih yang sekolahan, namun dalam aspek teknik dan pengalaman sang mantan atlet memang tak terkejar. Ketika memperagakan gerakan, ketika mengoreksi dan mengarahkan tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam sebuah game, sang mantan atlet jelas unggul. Tapi hati-hati, kalau ke”pede”an, bisa-bisa program yang disusunnya ngawur, berderet-deret atletnya rontok karena cedera, performa teknik bagus namun dengan fisik alakadarnya karena salah latihan membuat level kebugarannya rendah.

Jadi bagaimana baiknya? Mungkin sang mantan atlet ya harus paham tuntutan profesionalisme yang meminta ilmu dan wawasan keolahragaan dan belajar dari guru yang mumpuni. Bagaimana dengan sang pelatih yang sarjana olahraga? Sebaliknya ya harus belajar banyak pula tentang cabang cabang olahraga yang dilatihkannya. Tentunya perlu waktu yang lebih lama dibanding waktu yang diperlukan seorang mantan atlet yang belajar ilmu olahraga meski tak sedalam sang pelatih yang sarjana olahraga. Kombinasi  tim pelatih antara seorang pelatih yang mantan pemain dan seorang pelatih yang sekolahan adalah konsep idealnya. Memang sebuah tantangan untuk sekolah-sekolah keolahragaan.

Advertisements

One thought on “MULTI PERAN SEORANG PELATIH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s