Apa Saja Peran Seorang Pelatih?

Apa Saja Peran Seorang Pelatih?

Tulisan ini merupakan kelanjutan mandiri dari posting terdahulu berjudul MULTI PERAN SEORANG PELATIH. Kali ini saya ingin mendalami alenea pada tulisan terdahulu sebagai berikut: Gelar pelatih secara otomatis membuatnya harus menjalani beberapa peran sekaligus. Sebagai ayah/ ibu, pengarah, guru, pengasuh, pembelajar, pencatat, tempat bertanya (ensiklopedi berjalan), panutan, pemimpin, pelayan, sosok model/ teladan, penguat mental, teman, penolong, pengawas, hakim, pendukung, perawat, motivator, dan lain sebagainya. Nah, bagaimana penerapannya di dalam pelatihan? apakah peran tersebut hanya berlaku di lapangan saat latihan? bagaimana dan apa yang seharusnya dilakukan dan dijalankan oleh seorang pelatih? Tentu saja apa yang akan dilaksanakan seorang pelatih adalah pilihan bebas dari setiap individu, namun ada nilai-nilai yang berlaku dari berbagai sudut pandang menyangkut tugas, fungsi, peran, hak dan kewajiban seorang pelatih secara umum. Semoga ulasan ini bisa membantu dan tentunya saya tetap meminta saran masukan rekan-rekan pembaca yang budiman. 1. Sebagai ayah/ ibu, seorang pelatih menerima mandat atau titipan selama anak didik atau tepatnya anak latihnya berada di tempat latihan. Selama itu sang pelatih harus berperan pula sebagaimana layaknya orang tua bagi sang anak, memperlakukan mereka layaknya anak kandungnya sendiri. Tak perlu segan untuk menegur jika perilakunya tak patut, tapi juga dengan kasih sayang mengingatkan dan memberi teladan untuk bersikap seperti seharusnya seorang atlet yang baik. Memang ada batasan untuk sejauh mana sang pelatih menjalankan perannya, tentunya harus sesuai dengan kapasitasnya menjadi orang tua dalam konteks keolahragaan, sportmanship dan etika bersikap dan bergaul dengan sesama atlet maupun atlet dengan pelatih di lapangan maupun di luar lapangan. 2. Sebagai pengarah, pelatih harus senantiasa mengamati bakat dan potensi anaknya, untuk kemudian memberikan arahan yang tepat untuk berlatih hingga bermain secara maksimal. Sang pelatih juga dituntut jeli mengamati kelebihan dan kekurangan anak-anaknya. Mengeliminir kekurangan dan mengembangkan kelebihan-kelebihan mereka. 3. Sebagai guru, seorang pelatih serta merta menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Peran ini menuntut kemampuan komunikasi edukatif yang baik agar proses transfer keilmuan berjalan lancar. Dalam buku ajar kependidikan saja telah disebutkan sekian banyak peran guru, bagi seorang pelatih tentunya baik pula jika mau mempelajari sekilas dasar-dasar ilmu didaktik paedagogi. 4. Sebagai pengasuh, seorang pelatih sedapat mungkin memahami kebutuhan-kebutuhan, situasi-situasi khusus spesifik masing-masing anak. Misalnya saja, beberapa anak sulit menerima tipe pelatih yang tegas tanpa kompromi, sementara beberapa anak lain mungkin lebih menyukainya. Dalam hal ini, sang pelatih akan lebih berhasil jika juga menerapkan cara-cara yang lebih persuasif. (Situasi seperti ini mungkin banyak terjadi pada pelatihan tahap awal di usia dini).Dengan demikian seorang pelatih yang baik bukan hanya memiliki pola pelatihan yang baik, hasil pelatihan akan jauh lebih maksimal jika sang pelatih juga memiliki pola pengasuhan yang membuat relasi atlet-pelatih lebih sehat. 5. Sebagai pembelajar, dalam peran sebagai pembelajar seorang pelatih adalah seorang yang selalu terbuka dan mencari pengetahuan baru. Rajin membaca dan menggali pengetahuan-pengetahuan baru menyangkut perbolabasketan. Ia juga seorang yang berani mencoba dan inovatif, senantiasa berusaha maju. 6. Sebagai pencatat, setiap pelatih dituntut untuk memiliki catatan yang lengkap dan rapi mengenai pelatihan, paling tidak jurnal yang berisi pencapaian kemajuan program dan perkembangan anak latihnya. Kegiatan ini sering dianggap sepele namun sebenarnya sangat penting dan banyak membantu dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dengan kemajuan jaman sudah banyak alat bantu yang bisa mempermudah kegiatan pencatatan. 7. Sebagai tempat bertanya (ensiklopedi berjalan),sering terjadi pada pelatihan usia dini, namun dalam kenyataannya bahkan pada pelatih tim senior pun kejadian seperti ini masih sering terjadi. Tentunya kita tak dapat menguasai semuanya, jangan segan untuk mengatakan tidak tahu tapi setidaknya kita bisa memberikan saran kepada anak tentang bagaimana dan kemana mencari jawaban atau solusinya. 8. Sebagai panutan, ketika seorang pelatih telah memiliki kedekatan dengan anak-anaknya, apalagi ketika sosok sang pelatih setelah beberapa kali terbukti telah memberikan hasil positif bagi perkembangan kemampuan anak di lapangan, otomatis sosoknya berkembang menjadi panutan pula di luar lapangan. Telah terbukti bahwa ketika sang anak didik kemudian berhenti bermain dan lantas menjadi pelatih, gaya para pelatihnya yang terdahululah yang menjadi gayanya pula dalam melatih. 9. Dalam peran sebagai pemimpin, konteks yang saya maksudkan di sini bukan hanya dalam organisasi pelatihan tapi juga dalam hal tipe pemimpin bagaimana yang dilakoni sang pelatih. Pelatih yang berhasil selalu adalah pemimpin yang kuat dan berkarakter. Tak harus otoriter atau absolut, namun tak pula harus selalu demokratis. Ada saatnya pengambilan keputusan dilakukan secara kolektif, namun banyak juga keputusan diambil berdasarkan pertimbangan subyektif sang pelatih. Di sinilah letak pentingnya kemampuan analisis dan kecepatan mengambil keputusan. Keraguan hanya membuat anak-anak atau tim kebingungan, terutama saat bertanding; dan hakekatnya keputusan-keputusan yang diambil saat bertanding adalah pengejawantahan dari hasil pengambilan keputusan-keputusan saat proses pelatihan. 10. Sebagai pelayan, meski terletak di urutan kesepuluh bagi saya peran inilah yang paling vital dan mendasar. Sejak awal menyatakan kesanggupan untuk melatih, sesungguhnya saat itulah seorang pelatih seharusnya menyadari melatih adalah sebuah pelayanan atas dasar kecintaan pada bola basket. Bukan hanya bola basket sebagai sebuah permainan, namun secara menyeluruh berkaitan dengan setiap detail dari proses latihan hingga bertanding dan yang terpenting, hasil-hasil pengalaman selama latihan dan latihan itulah yang kemudian akan berpengaruh besar akan karakter setiap anak dalam menjalani kehidupan nyata di luar lapangan basket. Pengakuan peran bahwa melatih adalah peran sebagai pelayan juga mengandung nilai hakiki untuk sanggup melakoni peran secara rendah hati, ikhlas, arif dan bertanggungjawab terhadap sekian banyak perkembangan jiwa anak-anaknya. Hanya atas dasar komitmen inilah seorang pelatih mampu menunjukkan dedikasi dan integritas pribadinya; dan yang terpenting yaitu pengakuan peran sebagai pelayan ini pula yang membuatnya mempu melakoni belasan peran lain sebagai pelatih. 11. Sebagai sosok model/ teladan, ketika seorang pelatih telah menunjukkan dedikasinya sebagai pelatih, sebaliknya akan natural terbangun pula sikap respek anak-anak pada sosok sang pelatih. Sifat alami lanjutan adalah secara sadar atau tidak, sosok sang pelatih menjadi salah satu rawmodel dalam hidup mereka. Jika sang pelatih kemudian tak menyadari hal ini dan melakukan hal-hal buruk, naas lah nasib anak-anak latihnya. Mereka akan bingung jika sang rawmodel yang menjadi teladan menunjukkan kontradiksi sikap dan perilaku. Masih mending jika sang anak memiliki rawmodel lain yang kuat dan mampu menjadi pembanding dan yang mampu menjadi petunjuk bagi mereka untuk memilih teladan perilaku yang baik dan buruk. Hasilnya, gugurlah sikap respek anak-anak pada sang pelatih karena attitude yang buruk. Buruk pula proses dan hasil latihan, namun kiranya itulah yang terbaik bagi mereka. Dengan pemahaman akan peran pelatih yang kemudian menjadi sosok model/ teladan ini, haruslah seorang pelatih secara sadar senantiasa menjaga hati, perkataan dan perbuatannya. 12. Sebagai penguat mental. Meski tak harus banyak berkata-kata, kehadiran seorang pelatih tertentu yang terlihat oleh anak-anaknya hadir di sisi lapangan saja sudah mampu memberikan penguatan bagi anak-anaknya. Dalam hal ini, sang pelatih adalah juga menjadi anchor atau jangkar mental bagi anak-anaknya. Seperti inilah sesungguhnya salah satu peran penting seorang pelatih. Ikatan seperti ini hanya bisa berlaku pada hubungan pelatihan yang cukup lama, biasanya pelatih yang mampu memberikan penguatan hingga level seperti ini adalah pelatih yang sejak awal membentuk sang atlet. Pada kasus pemusatan latihan singkat, sangat jarang terjadi meski sang pelatih telah memiliki reputasi. Meski mungkin kepercayaan diri atlet meningkat karena reputasi sang pelatih, namun belum tentu sudah cukup tertanam mendalam dan belum teruji oleh pengalaman dalam situasi-situasi kritis. Peran sebagai penguat mental atlet adalah salah satu goal yang harus dicapai seorang pelatih. 13. Sebagai teman. Jika seorang pelatih telah berhasil mendapat kepercayaan dari anak-anaknya (saya selalu menyebutkan atlet binaan sebagai “anak-anaknya” karena demikianlah seharusnya seperti sudah dibahas pada point nomor 1), tak dapat dihindari lagi penerimaan beberapa anak yang pola asuh di rumah dengan orang tuanya cukup sehat sehingga menempatkan hubungan orang tua-anak juga sebagai teman, maka patron itu besar kemungkinannya terjadi pula dalam pola hubungan atlet-pelatih. 14. Sebagai penolong, proses latihan adalah sebuah siklus dimana seorang pelatih membantu anak-anaknya dengan melakukan beberapa tindakan mulai dari analisis atas potensi, kelebihan dan kekurangan atlet binaan, kemudian si pelatih menyusun asupan materi latihan yang sesuai, dan kemudian secara berulang-ulang menerapkannya pada proses latihan secara berulang-ulang untuk menanamkan serta mematangkan ketrampilan. Jalinan relasi selama proses itu menempatkan pelatih sebagai orang yang membantu anaknya untuk menemukan, menggali dan menampilkan potensinya secara maksimal. Di saat mereka lemah, pelatih memberi penguatan, di saat mereka jenuh si pelatih memberi hiburan, dan lain sebagainya; intinya si pelatih harus mampu membuat si anak membantu dirinya sendiri karena bukan sang pelatihlah yang akan menjalani pertandingan. Berikut gambar proses pelatihan. Gambar 1. pa 15. Sebagai pengawas,sepanjang proses latihan seorang pelatih juga menjalani peran sebagai pengawas yang senantiasa mengamati anak-anaknya. Ketika terjadi kesalahan, harus segera diberikan koreksi. Koreksi itulah yang menjadi point penting dalam latihan. Jika seorang pelatih lalai dalam mengawasi dan melakukan koreksi, ia gagal dalam melatih. Kurang pengawasan, kurang pula koreksi, kurangnya koreksi mengakibatkan munculnya kesalahan dalam bertanding. Itulah situasi yang paling dihindari oleh pelatih. 16. Sebagai hakim. Tindakan menghakimi mungkin adalah situasi yang dihindari oleh pelatih manapun, namun dalam kompleksnya hubungan antar pemain dengan pemain lainnya, kadangkala peran seperti ini tak terhindarkan. Sebab itu seorang pelatih dituntut sejak awal pelatihan untuk berlaku adil, proporsiaonal, fair dan terbuka. Jika seorang pelatih tidak bisa memperlihatkan sifat adil, ia akan kehilangan respek dan yang lebih buruk lagi hal itu akan mengancam keutuhan tim. 17. Sebagai pendukung, pada sebuah pertandingan sebaik apapun tim lawan, seburuk apapun permainan anak-anaknya; seorang pelatih harus selalu secara nyata memperlihatkan dukungannya kepada anak-anaknya. Sejak proses latihan ia juga harus selalu menunjukkannya kepada setiap anak dan kepada tim secara keseluruhan lewat kata-kata atau isyarat. Seruan penguat seperti “Ayo, kamu pasti bisa!” atau “Bagus! Itu yang saya mau”, atau jika penampilan mereka tidak maksimal, pelatih pasti kecewa tapi ungkapan emosional tak selalu memberi hasil baik. Lebih bermanfaat jika kita secara proporsional memberikan teguran, koreksi dan tetap memberikan penguatan dukungan. 18. Sebagai perawat, secara fisik dan mental seorang pelatih harus tahu kapan ia memaksa anak-anaknya melaksanakan porsi latihan yang sesuai dan kapan ia harus memberikan perawatan agar secara fisik dan mental kemampuan mereka tetap terjaga. Merawat dalam hal ini bukan hanya seperti perawatan atas cedera, tapi juga dengan memberikan saran tentang bagaimana seharusnya mereka beristirahat, bagaimana mereka mencukupkan asupan gisi, bagaimana mereka mencegah cedera, dan juga secara psikologis bagaimana pelatih memulihkan kepercayaan diri pemain dan tim secara keseluruhan. 19. Sebagai motivator, beberapa pelatih harus diakui lebih berhasil dibanding pelatih lainnya. Kemampuan untuk menjadi motivator tak dimiliki oleh setiap pelatih, hingga tak jarang sebuah tim memerlukan motivator profesional untuk menanganinya. Tanpa hubungan yang kuat antara atlet-pelatih, tak mudah pula motivasi ditanamkan. Bahkan seorang motivator profesional memerlukan waktu untuk mempelajari terlebih dahulu audiens-nya. Sebenarnya ketika hubungan atlet-pelatih terbangun, seorang pelatih bisa saja membantu atletnya untuk memotivasi diri dengan self motivation atau membangkitkan inner motivation. Mulai dari proses latihan, setiap atlet diminta untuk menetapkan goal setting masing, kemudian dalam prosesnya mereka akan mengalami failure dan success experience yang menjadi konfirmasi pribadi atas pencapaian masing-masing. Saat itulah sang pelatih memberi penguatan, koreksi dan membantu mereka agar saat latihan mereka terarah dan lebih fokus. Berikut gambar skema proses membangu kepercayaan diri. Gambar 2. article001p2 Tentunya pengalaman satu pelatih dengan pelatih lainnya berbeda-beda. Lain gaya lain pula peran yang dilakoni. Tak semua peran yang saya tuliskan di atas dilakukan oleh satu pelatih, bisa saja kurang bisa pula lebih. Untuk itu baik sekali kalau ada sharing dan berbagi pengalaman. Saya pernah membaca buku yang menerapkan cara-cara seorang coach/ pelatih olahraga dalam suatu pola manajemen perusahaan yang terbukti berhasil. Sang manajer meniru cara kerja para coach dalam kepemimpinannya. Tak mudah memang, namun pastilah hasilnya sepadan. Carol Wilson (2011) dalam bukunya “Performance Coaching, Metode Baru Mendongkrak Kinerja Karyawan”, mendefinisikan coaching sebagai “Suatu profesi yang membantu individu atau organisasi untuk meraih kinerja optimal, mengatasi hambatan dan rintangan terhadap pertumbuhan, dan untuk meraih tujuan-tujuan spesifik dan tantangan-tantangan sebagai sarana pemenuhan, pengembangan pribadi dan professional, keseimbangan hidup dan karya, serta pencegahan” Dari rumusan yang cukup panjang tersebut, jika diambil kesimpulan secara sederhana adalah bahwa coaching merupakan profesi yang dimaksudkan untuk membantu perseorangan atau suatu organisasi dalam meningkatkan kinerjanya dengan mengatasi hambatan dan tantangan yang ada. Menurut para ahli manajemen, coaching pada intinya adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh para pimpinan untuk melatih para bawahannya guna meraih kinerja yang optimum dan mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi serta bagaimana memanfaatkan peluang yang ada. Coaching merupakan sarana untuk mengoptimalkan sasaran yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan peluang dan menghilangkan hambatan yang dapat mengganggu pencapaian kinerja. Melalui coaching, seorang coach (yang memberikan coaching) dapat meningkatkan kepercayaan diri coachee (orang yang diberikan coaching), baik dalam kehidupan organisasinya maupun dalam kehidupan pribadinya sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar bagi pencapaian kinerja organisasinya. Coaching menjadi alat yang penting dalam proses pengembangan kepribadian dan keprofesionalan seseorang, sehingga seorang pemimpin (atasan) diharapkan mampu menjadi coach yang baik kepada bawahannya. Nah, sudah sedemikian majunya penerapan ilmu kepelatihan ke dalam dunia bisnis, kiranya kita para pelatih bisa memetik balik dan belajar dari penerapannya di dunia bisnis kepada profesi kita sebagai pelatih. Salam olahraga, Banjarmasin 11 Juni 2015.

Advertisements