Kombinasi Drill dalam Latihan Sirkuit Bola Basket

Kombinasi Drill dalam Latihan Sirkuit Bola Basket

Bola basket sebagai cabang olahraga tim, memiliki keunikan dalam hal menentukan target kapasitas kebugaran dan tingkat kemampuan unsur biomotorik pemainnya. Misalnya pada satu tim, seorang pelatih akan memerlukan sekurangnya satu orang pemain power rebounder yang mampu bergerak eksplosif dengan massa otot besar. Namun kita tahu bahwa umumnya tipikal pemain demikian memiliki kelemahan dalam hal endurance. Hanya segelintir atlet elite yang mampu bergerak eksplosif sepanjang pertandingan. Biasanya pelatih akan menyiapkan pemain cadangan serupa. Pada posisi lain, sang pelatih mungkin akan menyiapkan beberapa pemain yang tipikal berkemampuan aerobik lebih tinggi untuk kepentingan kemampuan menerapkan variasi strategi defensif baik zona atau man to man marking.

Lalu bagaimana cara latihan yang paling sesuai untuk membentuk pemain basket yang berkemampuan lengkap dan merata dalam aspek-aspek biomotorik yang memiliki hubungan saling ketergantungan (interdependence) satu sama lain sebagaimana dijelaskan dalam gambar berikut ini.

streng2

Dari berbagai alternatif pola latihan, menurut saya yang terbaik adalah menerapkan latihan sirkuit yang dikombinasikan dengan drill tertentu dan spesifik untuk tipikal pemain sesuai komposisi yang diinginkan.

Seperti misalnya untuk membentuk seorang pemain yang diharapkan memiliki kemampuan ofensif rebound yang baik, dapat kita berikan kombinasi latihan aerob dan anaerob lewat drill ofensif rebound yang menuntut gerak lari pelan menuju ring basket lawan dan kemudian mendadak berakselerasi dengan cepat dan disambung dengan lompatan setinggi mungkin.

Seberapa intensitas latihannya dapat kita pantau dengan secara periodik menghitung denyut nadinya. Beberapa repetisi diberikan di zona latihan aerob dan beberapa repetisi kita berikan di zona anaerob. Untuk kemudahan pemantauan denyut nadi atlet, kita bisa menggunakan alat heart rate monitor di tangan atlet.

Pada waktu istirahat selama 1 sampai 2 menit per stasiun sirkuit, kita juga bisa melihat bagaimana kemampuan recovery atlet kala berpindah stasiun setelah menyelesaikan latihan pada stasiun sebelumnya.

Untuk menerapkan latihan sirkuit tersebut kita harus memahami terlebih dahulu hakekat serta prinsip-prinsip latihan secara seksama. Berikut ini beberapa penjelasan singkat yang saya rangkum dari berbagai sumber relevan untuk menyusun latihan sirkuit yang dikombinasikan dengan drill spesifik bola basket.

I.  Latihan Sirkuit (Circuit Training)

A. Pengertian latihan Bompa (1994: 3).

Latihan merupakan suatu kegiatan olahraga yang sistematis dalam waktu yang panjang, ditingkatkan secara bertahap dan perorangan, bertujuan membentuk manusia yang berfungsi fisiologis dan psikologisnya untuk memenuhi tuntutan tugas. Menurut pendapat Fox (1993: 693) bahwa latihan adalah suatu program latihan fisik untuk mengembangkan seorang atlit dalam menghadapi pertandingan penting. Peningkatan kemampuan ketrampilan dan kapasitas energi diperhatikan sama.

B. Dosis latihan.

Penentuan dosis latihan adalah menetapkan tentang ukuran beban latihan yang harus dilakukan oleh atlet untuk jangka waktu tertentu.

Ada dua bentuk dosis latihan yaitu dosis ekternal dan dosis internal. Dosis ekternal (outer load) adalah jumlah beban kerja yang dirancang bagi seorang atlet yang menyusun kerangka sesi dari suatu program latihan. Untuk menyusun program latihan yang benar, seorang pelatih perlu mengenal karakteristik dosis eksternal. Komponen dosis ekternal adalah volume, yaitu jumlah kerja yang ditampilkan selama satu sesi latihan atau suatu fase latihan. Volume latihan dapat berupa durasi, jarak tempuh dan jumlah pengulangan/ repetisi (Bompa, 1994). Beban latihan dapat dikatakan sebagai dosis latihan fisik.

Yang dimaksud dosis latihan antara lain:

  1. Intensitas latihan dapat diartikan sebagai kualitas beban (ringan, sedang, berat atau low moderate, sub maximal, maximal, super maximal),
  2. Frekuensi latihan merupakan jumlah kejadian/ ulangan,
  3. Durasi latihan diartikan sebagai lamanya latihan dilaksanakan. Durasi latihan juga akan mempengaruhi perubahan adaptasi tubuh,
  4. Jenis latihan atau bentuk latihan. Yang dimaksud jenis adalah karakteristik latihan dari intensitas, frekuensi dan durasi latihan (Fox, 1993).

C.  Prinsip-Prinsip Dasar Latihan.

Program latihan hendaknya menerapkan prinsip-prinsip dasar latihan guna mencapai kinerja fisik yang maksimal bagi seseorang. Prinsip-prinsip dasar latihan yang secara umum harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

1). Prinsip beban berlebih (the overload principles). Pendapat Fox (1993: 687) dikemukakan bahwa intensitas kerja harus bertambah secara bertahap melebihi ketentuan program latihan merupakan kapasitas kebugaran yang bertambah baik. Bompa (1994: 29) bahwa pemberian beban latihan yang melebihi kebiasaan kegiatan sehari-hari secara teratur. Hal itu bertujuan agar sistem fisiologis dapat menyesuaikan dengan tuntutan fungsi yang dibutuhkan untuk tingkat kemampuan tinggi.

2). Prinsip kekhususan (the principles of specificity). Latihan harus bersifat khusus sesuai dengan kebutuhan olahraga dan pertandingan yang akan dilakukan. Perubahan anatomis dan fisiologis dikaitkan dengan kebutuhan olahraga dan pertandingan tersebut (Bompa, 1994: 32).

3). Prinsip individual (the principles of individuality). Bompa (1994: 35) menjelaskan bahwa latihan harus memperhatikan dan memperlakukan seseorang sesuai dengan tingkatan kemampuan, potensi, karakteristik belajar dan kekhususan olahraga. Seluruh konsep latihan harus direncanakan sesuai dengan karakteristik fisiologis dan psikologis seseorang, sehingga tujuan latihan dapat ditingkatkan secara wajar.

4). Prinsip beban latihan meningkat bertahap (the tprinciples of progressive increase load). Seseorang yang melakukan latihan, pemberian beban harus ditingkatkan secara bertahap, teratur dan ajeg hingga mencapai beban maksimum (Bompa, 1994: 44).

5). Prinsip Kembali Asal (the principles of reversibility). Djoko P.I (2000: 11) bahwa kebugaran yang telah dicapai seseorang akan berangsurangsur menurun bahkan bisa hilang sama sekali, jika latihan tidak dikerjakan secara teratur dengan takaran yang tepat.

6). Prinsip mengenal sumber energi utama (the principles of predominant energi system).

D.  Latihan Sirkuit

Menurut M. Sajoto (1995: 83) latihan sirkuit adalah suatu program latihan terdiri dari beberapa stasiun dan di setiap stasiun seorang atlet melakukan jenis latihan yang telah ditentukan. Satu sirkuit latihan dikatakan selesai, bila seorang atlet telah menyelesaikn latihan di semua stasiun sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan. Menurut Soekarman (1987: 70) latihan sirkuit adalah suatu program latihan yang dikombinasikan dari beberapa item-item latihan yang tujuannya dalam melakukan suatu latihan tidak akan membosankan dan lebih efisien.

Latihan sirkuit akan tercakup latihan untuk:

1) Kekuatan otot,

2) Ketahanan otot,

3) Kelentukan,

4) Kelincahan,

5) Keseimbangan, dan

6) Ketahanan jantung paru

Latihan-latihan harus merupakan siklus sehingga tidak membosankan. Latihan sirkuit biasanya satu sirkuit ada 6 sampai 15 stasiun, berlangsung selama 10-20 menit. Istirahat dari stasiun ke lainnya 15-20 detik. Menurut J.P. O’Shea dan E.L.Fox yang dikutip M. Sajoto (1995: 83) ada dua program latihan siruit, yang pertama bahwa jumlah stasiun adalah 8 tempat. Satu stasiun diselesaikan dalam waktu 45 detik, dan dengan repetisi antara 15-20 kali, sedang waktu istirahat tiap stasiun adalah 1 menit atau kurang. Rancangan kedua dinyatakan bahwa jumlah stasiun antara 6-15 tempat. Satu stasiun diselesaikan dalam waktu 30 detik, dan satu sirkuit diselesaikan antara 5-20 menit, dengan waktu istirahat tiap stasiun adalah 15-20 detik.

II.  Daya Tahan Aerobik

Olahraga aerobik (dengan oksigen) melibatkan kelompok-kelompok otot besar dan dilakukan dengan intensitas yang cukup rendah serta dalam waktu yang cukup lama, sehingga sumber-sumber bahan bakar dapat diubah menjadi ATP dengan menggunakan siklus asam sitrat sebagai jalur metabolisme predominan. Olahraga aerobik dapat dipertahankan dari lima belas sampai dua puluh menit hingga beberapa jam dalam sekali latihan. (Sherwood, 2001: 34).

Latihan yang meningkatkan persediaan ATP-PC dalam otot, peningkatan kadar glikogen maupun peningkatan nilai ambang anaerobik dengan cara pembentukan asam laktat yang lebih sedikit pada beban yang sama maupun ketahanan terhadap keasaman ysng dissebabkan asam laktat. (Soekarman, 1987: 49).

Menurut M. Sajoto (1995: 8) daya tahan aerobik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen kondisi fisik yang tidak dapat dipisahkan, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Artinya dalam meningkatakan kondisi fisik seluruh komponen harus dikembangkan walaupun dilakukan dengan sistem prioritas sesuai keadaan atau status yang dibutuhkan. Komponen-komponen kondisi fisik diantarannya:

  1. Kekuatan (strength), adalah kemampuan dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja.
  2. Daya tahan (endurance), adalah kemampuan seseorang untuk bekerja dalam jangka waktu yang relatif lama dengan kelelahan yang tidak berarti.
  3. Daya otot (muscular power), kemampuan seseorang dalam mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek pendeknya.
  4. Kecepatan (speed), kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu sesingkat-singkatnya.
  5. Daya lentur (flexibility), efektifitas seseorang dalam penyesuiaan diri untuk segala aktivitas dengan penguluran tubuh yang laus.
  6. Kelincahan (agility), kemampuan seseorang mengubah posisi di area tertentu.
  7. Koordinasi (coordination), kemampuan seseorang untuk mengintegrasikan bermacam-macam gerakan yang berbeda ke dalam pola gerakan tunggal secara efektif.
  8. Keseimbangan (balance), kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ syaraf otot.
  9. Ketepatan (accuracy), kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran.
  10. Reaksi (reaction), kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, syarat atau feeling lainnya.

Menurut Richard Eaton (1989: 106) komponen pembinaan kondisi fisik yang penting dalam mencapai prestasi olahraga terdiri dari: kekuatan, daya tahan, kecepatan dan kelincahan. Kondisi fisik atlet memberikan sumbangan terhadap pencapaian sebuah prestasi, tetapi untuk berprestasi tinggi ditentukan oleh teknik, taktik juga kualitas kondisi fisik yang prima.

Menurut pendapat Suharno (1993: 12) bahwa aspek-aspek yang perlu disempurnakan untuk mencapai kondisi fisik prima antara lain:

  1. Latihan kondisi fisik khusus sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga yang diikuti.
  2. Peningkatan penguasaan teknik dasar, teknik tinggi secara otomatis yang sempurna dan benar.
  3. latihan taktik sesuai dengan penguasaan kemampuan fisik dan teknik.
  4. pembinaan mental
  5. Melatih kemantapan bertanding dengan mengadakan pertandingan-pertandingan percobaan.

Latihan kondisi fisik memegang peranan yang sangat penting dalam setiap program latihan olahraga, terutama saat akan menghadapi pertandingan atau kompetisi. Latihan kondisi fisik harus mengacu kepada prinsip-prinsip latihan yang dilakukan secara sistematis, berencana dan progresif yang tujuan utamanya untuk meningkatkan kemampuan fungsional dari seluruh sistem tubuh agar prestasi semakin meningkat. Program latihan kondisi fisik tersebut haruslah disusun secara teliti serta dilaksanakan secara cermat dan dengan penuh disiplin.

Berbagai keadaan yang dapat dicapai jika atlet memiliki kondisi fisik yang baik adalah :

  1. Peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi dan kerja jantung.
  2. Peningkatan dalam kekuatan, kecepatan, kelenturan, stamina, kecepatan dan lainlain komponen fisik.
  3. Pelaksanaan gerak yang lebih ekonomis.
  4. Recovery atau pemulihan kondisi yang lebih cepat.
  5. Memiliki kemampuan respon dan umpan balik yang lebih baik.

Latihan daya tahan atau disebut juga Cardio Respiratory Training dapat meningkatkan suplay oksigen pada otot-otot yang memberikan kemampuan kepada atlet untuk melakukan suatu aktivitas yang lebih tinggi tingkatnya dalam waktu yang lama.

Daya tahan ini ada dua bentuk, yaitu: daya tahan umum (general endurance / daya tahan aerobik) dan daya tahan khusus (special endurance / daya tahan anaerobik). Latihan-latihan untuk mengembangkan daya tahan haruslah sesuai dengan batasan tersebut. Jadi latihan daya tahan harus berlangsung dalam waktu yang lama, misalnya lari jarak jauh, renang jarak jauh, cross country/lari lintas alam, fartlek, interval training atau bentuk latihan apapun yang memaksa tubuh kita bekerja untuk waktu yang lama. Kemampuan daya tahan akan meningkat sekitar 40% – 60%, jika dilatih sesuai dengan prinsip-prinsip latihan.

III.  Hubungan Latihan Daya Tahan Aerobik dengan VO2 Max

Latihan daya tahan akan mengembangakan konsumsi oksigen. Willmore dan Costill (1994: 155) mengatakan bahwa subyek yang belum terlatih VO2 maksimal menunjukkan peningkatan sebesar 20% atau lebih setelah mengikuti program latihan selama 6 bulan. Nilai VO2 maksimal yang tinggi dapat meningkatkan unjuk kerja pada aktivitas daya tahan, yaitu meningkatkan kemampuan rata-rata kerja lebih besar atau lebih cepat. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Gregory (dalam Rushall dan Pyke, 1990: 202- 208) dikatakan bahwa perbandingan latihan kontinyu lambat memperbaiki daya aerobik dan ambang batas asam laktat. Ambang batas anaerobik dalam teori paling baik ditingkatkan dengan latihan intensitas tinggi, meskipun pada praktik pelaksanaannya lebih efektif dan efisien dengan latihan kontinyu panjang pada intensitas sekitar 1-2 % di bawah ambang batas asam laktat yang ada.

Meningkatnya intensitas kerja sampai batas VO2 maksimal akan menyebabkan terjadinya salah satu dalam konsumsi oksigen, yaitu terjadi keadaan stabil (plateu) atau sedikit menurun dalam hal denyut nadi (Willmore dan Costill, 1994: 158 ). Terjadinya plateu tersebut menunjukkan bahwa akhir aktivitas semakin dekat karena suplai oksigen tidak dapat memenuhi kebutuhan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa VO2 maksimal membatasi rata-rata kerja atau kecepatan kerja yang dapat dilakukan. Jika aktivitas dilanjutkan sampai beberapa waktu setelah mencapai VO2 maksimal, sumber energi aerobik akan habis dan harus segera disuplai dari sumber energi anaerobik dengan kapasitas sedikit, sehingga tidak dapat berlangsung dalam waktu lama.

Untuk orang awan, atlet maupun seorang pelatih yang ingin meningkatkan daya tahan (endurance) harus mengetahui bahwa yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan daya tahan sistem kardiovaskuler. Dengan sistem kardiovaskuler yang baik, maka kebutuhan biologis tubuh pada waktu kerja akan lancar. Kelancaran tersebut dimungkinkan apabila alat-alat peredaran darah yang mengalirkan darah sebagai media penghantar untuk memberikan zat-zat makanan dan oksigen yang diperlukan jaringan tubuh, dapat menjalankan fungsinya dengan sempurna.

Pengertian endurance adalah kemampuan seseorang melaksanakan gerak dengan seluruh tubuhnya dalam waktu yang cukup lama dan dengan tempo sedang sampai cepat, tanpa mengalami rasa sakit dan kelelahan berat (M. Sajoto, 1995:121). Endurance menyatakan keadaan yang menekankan pada kapasitas melakukan kerja secara terus menerus dalam suasana aerobik. Jadi dapat berlaku bagi seluruh tubuh, suatu sistem dalam tubuh, daerah tertentu dan sebagainya (Dangsina Moeloek,1984:3).

Maximal Aerobik Power dapat dikatakan penentu yang penting pada olahraga ketahanan (endurance). Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa olahragawan yang sukses dalam nomor endurance secara tetap menunjukkan nilai VO2 Max yang tinggi. Nilai VO2 Max tertinggi dicapai pada olahraga yang memerlukan penggunaan energi yang relatif sangat besar dalam jangka waktu yang lama. Penelitian lain telah mengamati hubungan yang erat antar VO2 Max dan prestasi olahraga nomor endurance seperti lari jarak jauh, renang dan bersepeda. (Costill,1967 dikutip Pate, Rotella, Mc. Clenaghan,1993: 257).

IV.  Beberapa Contoh Drill Kombinasi Latihan Sirkuit

Setelah mendalami prinsip-prinsip latihan, kita bisa menyusun sendiri materi latihan secara terstruktur dan terukur. Setiap latihan kombinasi berikut memiliki tujuan spesifik yang belum tentu cocok dengan apa yang Anda butuhkan untuk tim yang Anda latih. Ini hanya contoh untuk menyusun drill spesifik bola basket yang dapat dimasukkan ke dalam suatu rangkaian latihan sirkuit.

A. Drill 7 Menit

Latihan ini dilakukan selama 7 menit, untuk lebih jelasnya lihat Gambar 1 di bawah ini.

Lat Sir 1

Gambar 1 Latihan 7 Menit

Pemain memulai latihan dengan berdiri di salah satu baseline. Garis bergelombang ditempuh pemain dengan defensive slide menghadap ke baseline, selanjutnya garis ganda merupakan jalur sprint dari sideline ke sideline, dan garis putus-putus dilalui dengan jogging.

B.  Drill Suicide

Latihan ini merupakan latihan cardiovascular yang dapat dilakukan untuk pemanasan dan meningkatkan kondisi fisik pemain terutama bagian kaki. Latihan dimulai dari baseline kemudian sprint sampai garis free-throw dan kembali lagi ke baseline. Selanjutnya sprint sampai garis half-court dan kembali lagi. Setelah itu, sprint sampai garis free-throw lawan dan kembali lagi. Terakhir, sprint sampai keseluruhan full-court dan kembali lagi ke baseline. Jangan memperlambat atau berhenti berlari.

Lat Sir 2

Gambar 2 Latihan Suicide

C.  Pyramid

Piramid merupakan variasi latihan Suicide. Latihan dimulai dengan pemain berdiri di baseline, kemudian sprint sampai baseline lawan dan dilanjutkan dengan push-up sekali. Kemudian sprint kembali dan diikuti dua kali push-up. Latihan dilanjutkan sampai dilakukan lima kali push-up. Latihan ini akan berakhir pada baseline yang sama di mana latihan dimulai.

D. Z (Diagonal Slide)

Latihan ini bertujuan untuk melatih kemampuan pemain berubah arah secara cepat ketika berlari. Latihan dimulai dengan pemain berdiri di daerah corner dan menghadap ke baseline. Selanjutnya pemain melakukan defensive slide sampai daerah elbow dan diikuti dengan back pivot ke kiri dan slide dilanjutkan sampai garis half-court. Setelah itu pemain melakukan back pivot ke kanan, dan seterusnya. Sepanjang garis baseline ditempuh pemain dengan sprint.

Lat Sir 3

Gambar 3 Latihan Z

Variasi yang dapat dilakukan adalah mengubah defensive slide dengan sprint untuk setiap gerakan yang mengarah ke elbow. Perbedaannya, perpindahan dari defensive slide ke sprint dapat dengan dilakukan dengan front pivot. Variasi lainnya adalah mengganti semua defensive slide dengan sprint. Dalam hal ini semua perubahan arah dilakukan secara cepat dengan front pivot.

E.  Pitch and Fire

Latihan ini sebenarnya latihan untuk offensive transition, tetapi dapat juga digunakan untuk melatih fisik para pemain. Pemain akan melakukan dribble dengan kecepatan penuh, jump stop, passing, dan lay-up. Pemain rebounder seharusnya melakukan rebound secepat mungkin setelah lay-up dilakukan sebelum bola menyentuh lantai dan diikuti dengan outlet pass dengan cepat ke pemain lainnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 4.

Lat Sir 4

Gambar 4 Latihan Pitch and Fire

Latihan divariasi dengan mengubah arahnya, sehingga pemain akan melakukan dribble dan jump stop serta shoot atau dilanjutkan dengan lay-up menggunakan tangan kiri.

Referensi:

  1. Bompa, T.O., (1994). Theory and Methodology of Training, Third edition, Toronto, Ontorio Canada: Kendall/ Hunt Publishing Company.
  2. Dangsina Moeloek., (1994). Dasar Fisiologi Kesegaran Jasmani dan Latihan Fisik. Kumpulan Makalah. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  3. Djoko P.I. (2000). Panduan Latihan Kebugaran (Yang Efektif dan Aman). Yogyakarta: Lukman Offset.
  4. Eaton, Richard. (1989). Sports Action Badminton. Muenchen: Octopus Book Co. Ltd
  5. Fox. E.L., Bowers. R.W., dan Foss. M.L. (1993). The Physiological Basis for Exercise and Sport, fifth edition. Iowa: Brown & Benchmark Publishers.
  6. http://basketmipa.blogspot.com, Latihan Fisik, diakses 3 Juli 2015
  7. M. Sajoto. (1995). Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize
  8. Nossek Josef. (1981). General Theory of Training. Lagos: Pan African Press Ltd, Nurgess Publishing Company.
  9. Pate RR. Mc., Clengham B., Rotella R., (1993). Dasar-Dasar Ilmiah Kepelatiha, (Scientific Foundation of Coaching), Terjemahan Kasiyo Dwijowinoto), Semarang: IKIP Semarang Press
  10. Radcliffe C.Jamnes and Farentinos C.Robert. (1985). Plyometrics Explosive Power Training. Illinois: human Kinetics Publishers, Inc.
  11. Rushall, BS., and Frank S. Pyke., (1990). Training for Sport and Fitness, South Melbourne: The Macmillan Company of Australia PTY LTD, 107 Moray Street. Sadoso Sudharno Sastropanular., (1997). Tes Sederhana untuk Mengukur Kapasitas Aerob.
  12. Sherwood L, (2001). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, alih bahasa Brahm U. Pendit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
  13. Sigit Nugroho, 2007, Pengaruh Latihan Sirkuit terhadap Daya Tahan Aerobik (VO2Max) Mahasiswa PKO Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi Program studi Ilmu Keolahragaan FIK UNY
  14. Soekarman. (1987). Dasar Olahraga Untuk Pembina, Pelatih dan Atlet: Jakarta: Inti Idayu Press
  15. Suharno. (1993). Metodologi Pelatihan. Yogyakarta: FPOK IKIP Yogyakarta.
  16. Wilmore, H.J., and Costill, DL., (1994). Physiology of Sport And Exercise, USA: Human Kinetics, Champaign.
Advertisements
ILMU KEDOKTERAN OLAHRAGA: GERAK

ILMU KEDOKTERAN OLAHRAGA: GERAK

Prof. Dr. dr. Muchsin Doewes, PFarK, MARS, AIFO

 

Ada 2 macam alat gerak dalam tubuh kita, yaitu alat gerak pasif dan aktif. Alat gerak pasif meliputi tulang dan sendi, sedangkan alat gerak aktif adalah otot. Yang berperan sebagai penyuplai oksigen adalah sistem respirasi dan sistem kardiovaskular. Oksigen diedarkan ke seluruh tubuh dengan mengendarai Hb.

Intermezzo sedikit ya. Eritrosit hidup secara anaerob. Meskipun membawa oksigen dalam sirkulasi, eritrosit tidak pernah menggunakan oksigen itu untuk dirinya sendiri. Ini yang menarik, bahkan salah satu struktur penyusun tubuh kita tidak pernah melakukan korupsi, malah berbagi 100% dari apa yang dimilikinya. Luar biasa ya eritrosit, hidup 120 hari untuk berbagi. Selalu ada hikmah kan di balik setiap yang terjadi pada diri kita, jadi mari belajar dari eritrosit =).

Kembali lagi ke bahasan utama. Sistem pengontrol utama alat gerak kita adalah sistem saraf & hormon. Sebenarnya masih banyak sistem penunjang yang lain, tapi fungsinya tidak sesignifikan kedua sistem di atas.

Sebelumnya perlu diketahui dulu ya teman-teman, dalam posting kali ini kita membahas faktor internal dari olahraga. Mengenai faktor eksternal (misalnya cedera karena ketendang lawan) nanti masuknya ke sport injury. Agar lebih jelas, rumusan masalah di kuliah kali ini adalah bagaimana cara tubuh merespon tuntutan fisiologis yang tinggi terhadap aktivitas fisik?

Pertama, kita bahas dulu mengenai cara koordinasi sistem otot dan sistem saraf dalam menghasilkan gerakan tubuh. Ingat-ingat lagi yuk, kornu posterior medula spinalis berfungsi sebagai penghantar impuls sensorik, sedangkan kornu anterior berfungsi sebagai motor yang menggerakan otot (motorik).

Ked 1

Ketika suatu otot mengalami peregangan (misalnya saat mengangkat barang), akan terjadi impuls aferen dari stretch receptor ke medula spinalis. Impuls ini kemudian akan diteruskan menjadi impuls eferen ke motor neuron yang menyebabkan kontraksi dari otot yang mengalami peregangan (stretching) tadi, tujuannya adalah agar regangan otot tidak berlebihan. Nah, tidak berhenti sampai di sini teman-teman. Kita tidak mengharapkan kontraksi untuk proteksi ini menjadi berlebihan kan? Untuk itu di dalam tubuh kita tersedia mekanisme yang menginhibisi kontraksi ini agar tidak berlebihan oleh Golgi tendon organ/organ tendon Golgi.

Ked Or 2

Tonus otot yang tinggi akibat kontraksi akan mengaktivasi neuron sensorik. Neuron sensorik ini kemudian menstimulasi interneuron yang kemudian akan menghambat motoneuron. Ketika motoneuron dihambat, tonus otot dapat dikurangi.

Jadi apa sebenarnya organ tendon Golgi ini? Organ tendon golgi adalah reseptor sensorik propioseptif yang terletak pada serabut otot dari otot skelet bertemu dengan tendon. Terdiri dari untaian kolagen, organ tendon Golgi juga mengandung jaringan saraf. Fungsi utamanya adalah untuk merasakan ketegangan otot ketika otot berkontraksi, mengirimkan sinyal ke otak mengenai seberapa besar kekuatan yang dikeluarkan dan di mana tempatnya.

Teman-teman sekalian, kita sudah tahu kan bahwa pusat motorik itu terletak di gyrus centralis anterior. Nah, jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan pergerakan kita nanti akan berawal dari sini. Pada aplikasinya nanti, pergerakan otot dari sistem neuromuskular akan dipengaruhi oleh terpacunya sistem endokrin sebagai pengontrol keseimbangan energi yang kemudian menimbulkan respon sistem kardiovaskular sebagai pensuplai oksigen dan termoregulator, bersamaan dengan terjadinya perubahan metabolisme yang menghasilkan energi yang penting untuk pergerakan (movement).

Tahukah Anda, kecepatan saraf kita mencapai 100 meter/detik lho. Betapa menakjubkan koordinasi dari sel-sel sekecil itu dapat menghasilkan kecepatan yang luar biasa. Kecepatan ini terutama bisa dihasilkan oleh organ-organ yang memiliki banyak persarafan. Jika kita melihat gambaran replika homunculus (ada sensorik dan motorik), banyaknya stimulasi saraf pada bagian tubuh digambarkan dengan ukuran tubuh tertentu yang besar. Sedangkan ukuran yang lebih kecil menggambarkan stimulasi saraf yang lebih sedikit. Penyesuaian-penyesuaian ini tidak hanya pada tingkat organ/sistem, tetapi juga pada level sel maupun level molekular. Misalnya: pada kontraksi otot biceps sewaktu angkat beban 20 kg terjadi:

  1. Serat saraf otak (neuron motorik) menyalurkan impuls listrik turun ke medula spinalis menuju ke arah lengan à tingkat sel.
  2. Setelah mencapai m. biceps, neuron-neuron ini melepaskan chemical messenger (Ach) menyeberangi celah antara saraf dan otot à tingkat molekular.
  3. Impuls listrik menyebar ke sepanjang serat otot yang aktif, masuk ke dalam serat melalui pori-pori kecil.

Nah, sudah jelas kan. Jadi impuls listrik mengaktifkan proses-proses kontraksi otot yang nantinya akan melibatkan aktin-myosin dan sistem energi. Sekarang kita membicarakan tentang kontraksi otot ya teman-teman. Bayangkan kita sedang berdiri tegak dengan barbel di tangan kanan kita. Ketika barbel itu kita angkat dengan cara menekuk siku, muskulus biseps mengalami kontraksi konsentris. Kontraksi konsentris adalah kontraksi otot di mana serat otot memendek. Ketika siku tangan yang memegang barbel ini diluruskan kembali, terjadi kontraksi eksentris pada muskulus biseps. Disebut eksentrik sebab serabut–serabut otot memanjang ketika berkontraksi.

Ked Or 3

Kita refreshing sedikit ya mengenai 5 sila utama di dunia per-otot-an:

Sila 1: whole muscle

Sila 2: fasciculus

Sila 3: muscle cell

Sila 4: miofibril

Sila 5: actin & myosin

Ked Or 46 komponen yang terlibat dalam kontraksi otot:

  1. Myosin
  2. Aktin
  3. Troponin
  4. Tropomyosin
  5. ATP
  6. Kalsium

Fungsi dan mekanisme kerjanya? Gambarannya kira-kira seperti di bawah ini.

Ked Or 5

Myosin yang berbentuk seperti tongkat golf, akan berkontraksi dan mengikatkan diri pada aktin. Masih ingat kan dari kuliah tanggal 29 Oktober dulu. Di permukaan aktin terdapat titik-titik seperti pentil yang pada saat istirahat ditutup oleh tropomyosin. Di gambar, tropomyosin ini yang bentuknya seperti tali panjang warna kuning. Tropomyosin ini punya satpam yang bertugas untuk mengunci agar tidak bergeser dari tempatnya, disebut troponin. Ketika kontraksi, troponin akan berikatan dengan Ca sehingga kunci troponin terbuka dan tropomyosin bergeser. Pada saat yang bersamaan, myosin berkontraksi dan berikatan dengan aktin pada bagian yang tadinya tertutup oleh tropomyosin. Selanjutnya myosin menarik aktin sehingga terjadi sliding yang menyebabkan pemendekan sarkomer.

Peristiwa kontraksi memerlukan energi. Energi untuk kontraksi otot skelet disediakan oleh energi yang dihasilkan melalui hidrolisis senyawa berenergi tinggi (=high-energy compound) yaitu ATP. ATP ini kemudian akan dipecah dengan bantuan myosin ATP-ase menjadi ADP, fosfat inorganik (Pi), dan energi. Myosin ATP-ase adalah katalis protein globular kompleks yang dapat mempercepat reaksi kimia sampai 1012-1022 kali lebih cepat bila dibanding tanpa katalis, pada suhu 37 derajat Celcius.

Dalam 1 rangkaian kontraksi diperlukan 3 ATP yang masing-masing berfungsi untuk:

  1. untuk cross bridge
  2. untuk relaksasi miosin & reposisioning myosin
  3. mengembalikan Ca ke terminal sisterna.

Bagaimana penggunaan energi dalam tubuh kita? Empat puluh lima persen energi digunakan untuk ACTION (tergantung organnya, misalnya kontraksi otot, sistol jantung, dan peristaltik usus). Sedangkan 55% digunakan untuk panas. Sehubungan dengan penggunaan energi, ada istilah hypodinamic disease nih teman-teman. Ini adalah penyakit yang salah satu penyebabnya adalah kurang gerak, sehingga energi yang dihasilkan tidak dikeluarkan. Contohnya DM dan obesitas.

ATP adalah energi instan yang sudah ada di tubuh, hanya saja jumlahnya sedikit dan hanya bisa sekali pakai dan karenanya harus diresintesis terus-menerus kalau latihannya berlangsung lebih dari beberapa detik. Maka diperlukan sistem energi untuk membentuk ATP lagi. Ada 3 jalur metabolisme ATP:

  1. Sistem Phosphocreatine (PC), mencakup perubahan fosfat berenergi tinggi dari PC untuk merefosforilasi ADP menjadi ATP. Sistem energi ini digunakan dalam fase cepat, sekitar 15-20 detik karena pembentukannya hanya memerlukan 1 enzim, yaitu kreatin kinase. ADP yang berasal dari pemecahan ATP akan diresintesis kembali (ADP + PC à ATP + C). Namun, kuantitas PC yang ada dalam sel terbatas, sehingga kadar total ATP yang dapat diproduksi melalui mekanisme ini juga terbatas.
  2. Sistem glikolisis/lactic acid system (sistem LA), terdapat dalam sitoplasma sel otot. Glikolisis adalah degradasi karbohidrat (glikogen atau glukosa) menjadi piruvat atau laktat (melibatkan serangkaian langkah yang dikatalisis enzim). Sistem energi ini dapat bertahan sampai kurang dari 90 menit. Menghasilkan 2 ATP.
  3. Aerobic oxidation atau oksidasi aerobik. Di dalamnya termasuk siklus krebs dan fosforilasi oksidatif yang terletak di mitokondria. Sistem energi ini menghasilkan ATP paling banyak (36 ATP, di samping produk lainnya yang berupa H2O dan CO2).

Gampangannya seperti ini:

1 detik à ATP

15-20 detik à ATP-PC

< 90 detik à LA sistem

> 180 detik (3 menit) = sistem aerobik

Sistem ATP-PC dan LA termasuk sistem energi anaerob, sedangkan aerobic oxidation sudah jelas aerob lah ya. Berbeda dengan glikolisis, metabolisme aerob dapat menggunakan lemak, protein, dan karbohidrat sebagai substrat untuk memproduksi ATP.

Nah, lalu apa yang dimaksud dengan olahraga anaerob? Pertanyaan bagus nih, soalnya bisa bikin kita diem sambil ngarep dikasih tau jawabannya =D. Berdasarkan Prof. Muchsin, olahraga yang menggunakan sistem energi di luar mitokondria termasuk olahraga anaerob. Tapi tunggu dulu, yang mempengaruhi apakah suatu olahraga itu aerob atau anaerob bukan jenis olahraganya, tapi tergantung masing-masing orang (kapasitas aerob atau VO2 max). Perlu diperhatikan bahwa intensitas latihan menentukan jalur metabolisme. Contoh, jalan cepat selama 30 menit bagi orang-orang yang terlatih, merupakan olahraga aerob. Sedangkan bagi beberapa orang yang tidak terbiasa berlatih, maka ini termasuk olahraga anaerob.