Apa Saja Peran Seorang Pelatih?

Apa Saja Peran Seorang Pelatih?

Tulisan ini merupakan kelanjutan mandiri dari posting terdahulu berjudul MULTI PERAN SEORANG PELATIH. Kali ini saya ingin mendalami alenea pada tulisan terdahulu sebagai berikut: Gelar pelatih secara otomatis membuatnya harus menjalani beberapa peran sekaligus. Sebagai ayah/ ibu, pengarah, guru, pengasuh, pembelajar, pencatat, tempat bertanya (ensiklopedi berjalan), panutan, pemimpin, pelayan, sosok model/ teladan, penguat mental, teman, penolong, pengawas, hakim, pendukung, perawat, motivator, dan lain sebagainya. Nah, bagaimana penerapannya di dalam pelatihan? apakah peran tersebut hanya berlaku di lapangan saat latihan? bagaimana dan apa yang seharusnya dilakukan dan dijalankan oleh seorang pelatih? Tentu saja apa yang akan dilaksanakan seorang pelatih adalah pilihan bebas dari setiap individu, namun ada nilai-nilai yang berlaku dari berbagai sudut pandang menyangkut tugas, fungsi, peran, hak dan kewajiban seorang pelatih secara umum. Semoga ulasan ini bisa membantu dan tentunya saya tetap meminta saran masukan rekan-rekan pembaca yang budiman. 1. Sebagai ayah/ ibu, seorang pelatih menerima mandat atau titipan selama anak didik atau tepatnya anak latihnya berada di tempat latihan. Selama itu sang pelatih harus berperan pula sebagaimana layaknya orang tua bagi sang anak, memperlakukan mereka layaknya anak kandungnya sendiri. Tak perlu segan untuk menegur jika perilakunya tak patut, tapi juga dengan kasih sayang mengingatkan dan memberi teladan untuk bersikap seperti seharusnya seorang atlet yang baik. Memang ada batasan untuk sejauh mana sang pelatih menjalankan perannya, tentunya harus sesuai dengan kapasitasnya menjadi orang tua dalam konteks keolahragaan, sportmanship dan etika bersikap dan bergaul dengan sesama atlet maupun atlet dengan pelatih di lapangan maupun di luar lapangan. 2. Sebagai pengarah, pelatih harus senantiasa mengamati bakat dan potensi anaknya, untuk kemudian memberikan arahan yang tepat untuk berlatih hingga bermain secara maksimal. Sang pelatih juga dituntut jeli mengamati kelebihan dan kekurangan anak-anaknya. Mengeliminir kekurangan dan mengembangkan kelebihan-kelebihan mereka. 3. Sebagai guru, seorang pelatih serta merta menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Peran ini menuntut kemampuan komunikasi edukatif yang baik agar proses transfer keilmuan berjalan lancar. Dalam buku ajar kependidikan saja telah disebutkan sekian banyak peran guru, bagi seorang pelatih tentunya baik pula jika mau mempelajari sekilas dasar-dasar ilmu didaktik paedagogi. 4. Sebagai pengasuh, seorang pelatih sedapat mungkin memahami kebutuhan-kebutuhan, situasi-situasi khusus spesifik masing-masing anak. Misalnya saja, beberapa anak sulit menerima tipe pelatih yang tegas tanpa kompromi, sementara beberapa anak lain mungkin lebih menyukainya. Dalam hal ini, sang pelatih akan lebih berhasil jika juga menerapkan cara-cara yang lebih persuasif. (Situasi seperti ini mungkin banyak terjadi pada pelatihan tahap awal di usia dini).Dengan demikian seorang pelatih yang baik bukan hanya memiliki pola pelatihan yang baik, hasil pelatihan akan jauh lebih maksimal jika sang pelatih juga memiliki pola pengasuhan yang membuat relasi atlet-pelatih lebih sehat. 5. Sebagai pembelajar, dalam peran sebagai pembelajar seorang pelatih adalah seorang yang selalu terbuka dan mencari pengetahuan baru. Rajin membaca dan menggali pengetahuan-pengetahuan baru menyangkut perbolabasketan. Ia juga seorang yang berani mencoba dan inovatif, senantiasa berusaha maju. 6. Sebagai pencatat, setiap pelatih dituntut untuk memiliki catatan yang lengkap dan rapi mengenai pelatihan, paling tidak jurnal yang berisi pencapaian kemajuan program dan perkembangan anak latihnya. Kegiatan ini sering dianggap sepele namun sebenarnya sangat penting dan banyak membantu dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dengan kemajuan jaman sudah banyak alat bantu yang bisa mempermudah kegiatan pencatatan. 7. Sebagai tempat bertanya (ensiklopedi berjalan),sering terjadi pada pelatihan usia dini, namun dalam kenyataannya bahkan pada pelatih tim senior pun kejadian seperti ini masih sering terjadi. Tentunya kita tak dapat menguasai semuanya, jangan segan untuk mengatakan tidak tahu tapi setidaknya kita bisa memberikan saran kepada anak tentang bagaimana dan kemana mencari jawaban atau solusinya. 8. Sebagai panutan, ketika seorang pelatih telah memiliki kedekatan dengan anak-anaknya, apalagi ketika sosok sang pelatih setelah beberapa kali terbukti telah memberikan hasil positif bagi perkembangan kemampuan anak di lapangan, otomatis sosoknya berkembang menjadi panutan pula di luar lapangan. Telah terbukti bahwa ketika sang anak didik kemudian berhenti bermain dan lantas menjadi pelatih, gaya para pelatihnya yang terdahululah yang menjadi gayanya pula dalam melatih. 9. Dalam peran sebagai pemimpin, konteks yang saya maksudkan di sini bukan hanya dalam organisasi pelatihan tapi juga dalam hal tipe pemimpin bagaimana yang dilakoni sang pelatih. Pelatih yang berhasil selalu adalah pemimpin yang kuat dan berkarakter. Tak harus otoriter atau absolut, namun tak pula harus selalu demokratis. Ada saatnya pengambilan keputusan dilakukan secara kolektif, namun banyak juga keputusan diambil berdasarkan pertimbangan subyektif sang pelatih. Di sinilah letak pentingnya kemampuan analisis dan kecepatan mengambil keputusan. Keraguan hanya membuat anak-anak atau tim kebingungan, terutama saat bertanding; dan hakekatnya keputusan-keputusan yang diambil saat bertanding adalah pengejawantahan dari hasil pengambilan keputusan-keputusan saat proses pelatihan. 10. Sebagai pelayan, meski terletak di urutan kesepuluh bagi saya peran inilah yang paling vital dan mendasar. Sejak awal menyatakan kesanggupan untuk melatih, sesungguhnya saat itulah seorang pelatih seharusnya menyadari melatih adalah sebuah pelayanan atas dasar kecintaan pada bola basket. Bukan hanya bola basket sebagai sebuah permainan, namun secara menyeluruh berkaitan dengan setiap detail dari proses latihan hingga bertanding dan yang terpenting, hasil-hasil pengalaman selama latihan dan latihan itulah yang kemudian akan berpengaruh besar akan karakter setiap anak dalam menjalani kehidupan nyata di luar lapangan basket. Pengakuan peran bahwa melatih adalah peran sebagai pelayan juga mengandung nilai hakiki untuk sanggup melakoni peran secara rendah hati, ikhlas, arif dan bertanggungjawab terhadap sekian banyak perkembangan jiwa anak-anaknya. Hanya atas dasar komitmen inilah seorang pelatih mampu menunjukkan dedikasi dan integritas pribadinya; dan yang terpenting yaitu pengakuan peran sebagai pelayan ini pula yang membuatnya mempu melakoni belasan peran lain sebagai pelatih. 11. Sebagai sosok model/ teladan, ketika seorang pelatih telah menunjukkan dedikasinya sebagai pelatih, sebaliknya akan natural terbangun pula sikap respek anak-anak pada sosok sang pelatih. Sifat alami lanjutan adalah secara sadar atau tidak, sosok sang pelatih menjadi salah satu rawmodel dalam hidup mereka. Jika sang pelatih kemudian tak menyadari hal ini dan melakukan hal-hal buruk, naas lah nasib anak-anak latihnya. Mereka akan bingung jika sang rawmodel yang menjadi teladan menunjukkan kontradiksi sikap dan perilaku. Masih mending jika sang anak memiliki rawmodel lain yang kuat dan mampu menjadi pembanding dan yang mampu menjadi petunjuk bagi mereka untuk memilih teladan perilaku yang baik dan buruk. Hasilnya, gugurlah sikap respek anak-anak pada sang pelatih karena attitude yang buruk. Buruk pula proses dan hasil latihan, namun kiranya itulah yang terbaik bagi mereka. Dengan pemahaman akan peran pelatih yang kemudian menjadi sosok model/ teladan ini, haruslah seorang pelatih secara sadar senantiasa menjaga hati, perkataan dan perbuatannya. 12. Sebagai penguat mental. Meski tak harus banyak berkata-kata, kehadiran seorang pelatih tertentu yang terlihat oleh anak-anaknya hadir di sisi lapangan saja sudah mampu memberikan penguatan bagi anak-anaknya. Dalam hal ini, sang pelatih adalah juga menjadi anchor atau jangkar mental bagi anak-anaknya. Seperti inilah sesungguhnya salah satu peran penting seorang pelatih. Ikatan seperti ini hanya bisa berlaku pada hubungan pelatihan yang cukup lama, biasanya pelatih yang mampu memberikan penguatan hingga level seperti ini adalah pelatih yang sejak awal membentuk sang atlet. Pada kasus pemusatan latihan singkat, sangat jarang terjadi meski sang pelatih telah memiliki reputasi. Meski mungkin kepercayaan diri atlet meningkat karena reputasi sang pelatih, namun belum tentu sudah cukup tertanam mendalam dan belum teruji oleh pengalaman dalam situasi-situasi kritis. Peran sebagai penguat mental atlet adalah salah satu goal yang harus dicapai seorang pelatih. 13. Sebagai teman. Jika seorang pelatih telah berhasil mendapat kepercayaan dari anak-anaknya (saya selalu menyebutkan atlet binaan sebagai “anak-anaknya” karena demikianlah seharusnya seperti sudah dibahas pada point nomor 1), tak dapat dihindari lagi penerimaan beberapa anak yang pola asuh di rumah dengan orang tuanya cukup sehat sehingga menempatkan hubungan orang tua-anak juga sebagai teman, maka patron itu besar kemungkinannya terjadi pula dalam pola hubungan atlet-pelatih. 14. Sebagai penolong, proses latihan adalah sebuah siklus dimana seorang pelatih membantu anak-anaknya dengan melakukan beberapa tindakan mulai dari analisis atas potensi, kelebihan dan kekurangan atlet binaan, kemudian si pelatih menyusun asupan materi latihan yang sesuai, dan kemudian secara berulang-ulang menerapkannya pada proses latihan secara berulang-ulang untuk menanamkan serta mematangkan ketrampilan. Jalinan relasi selama proses itu menempatkan pelatih sebagai orang yang membantu anaknya untuk menemukan, menggali dan menampilkan potensinya secara maksimal. Di saat mereka lemah, pelatih memberi penguatan, di saat mereka jenuh si pelatih memberi hiburan, dan lain sebagainya; intinya si pelatih harus mampu membuat si anak membantu dirinya sendiri karena bukan sang pelatihlah yang akan menjalani pertandingan. Berikut gambar proses pelatihan. Gambar 1. pa 15. Sebagai pengawas,sepanjang proses latihan seorang pelatih juga menjalani peran sebagai pengawas yang senantiasa mengamati anak-anaknya. Ketika terjadi kesalahan, harus segera diberikan koreksi. Koreksi itulah yang menjadi point penting dalam latihan. Jika seorang pelatih lalai dalam mengawasi dan melakukan koreksi, ia gagal dalam melatih. Kurang pengawasan, kurang pula koreksi, kurangnya koreksi mengakibatkan munculnya kesalahan dalam bertanding. Itulah situasi yang paling dihindari oleh pelatih. 16. Sebagai hakim. Tindakan menghakimi mungkin adalah situasi yang dihindari oleh pelatih manapun, namun dalam kompleksnya hubungan antar pemain dengan pemain lainnya, kadangkala peran seperti ini tak terhindarkan. Sebab itu seorang pelatih dituntut sejak awal pelatihan untuk berlaku adil, proporsiaonal, fair dan terbuka. Jika seorang pelatih tidak bisa memperlihatkan sifat adil, ia akan kehilangan respek dan yang lebih buruk lagi hal itu akan mengancam keutuhan tim. 17. Sebagai pendukung, pada sebuah pertandingan sebaik apapun tim lawan, seburuk apapun permainan anak-anaknya; seorang pelatih harus selalu secara nyata memperlihatkan dukungannya kepada anak-anaknya. Sejak proses latihan ia juga harus selalu menunjukkannya kepada setiap anak dan kepada tim secara keseluruhan lewat kata-kata atau isyarat. Seruan penguat seperti “Ayo, kamu pasti bisa!” atau “Bagus! Itu yang saya mau”, atau jika penampilan mereka tidak maksimal, pelatih pasti kecewa tapi ungkapan emosional tak selalu memberi hasil baik. Lebih bermanfaat jika kita secara proporsional memberikan teguran, koreksi dan tetap memberikan penguatan dukungan. 18. Sebagai perawat, secara fisik dan mental seorang pelatih harus tahu kapan ia memaksa anak-anaknya melaksanakan porsi latihan yang sesuai dan kapan ia harus memberikan perawatan agar secara fisik dan mental kemampuan mereka tetap terjaga. Merawat dalam hal ini bukan hanya seperti perawatan atas cedera, tapi juga dengan memberikan saran tentang bagaimana seharusnya mereka beristirahat, bagaimana mereka mencukupkan asupan gisi, bagaimana mereka mencegah cedera, dan juga secara psikologis bagaimana pelatih memulihkan kepercayaan diri pemain dan tim secara keseluruhan. 19. Sebagai motivator, beberapa pelatih harus diakui lebih berhasil dibanding pelatih lainnya. Kemampuan untuk menjadi motivator tak dimiliki oleh setiap pelatih, hingga tak jarang sebuah tim memerlukan motivator profesional untuk menanganinya. Tanpa hubungan yang kuat antara atlet-pelatih, tak mudah pula motivasi ditanamkan. Bahkan seorang motivator profesional memerlukan waktu untuk mempelajari terlebih dahulu audiens-nya. Sebenarnya ketika hubungan atlet-pelatih terbangun, seorang pelatih bisa saja membantu atletnya untuk memotivasi diri dengan self motivation atau membangkitkan inner motivation. Mulai dari proses latihan, setiap atlet diminta untuk menetapkan goal setting masing, kemudian dalam prosesnya mereka akan mengalami failure dan success experience yang menjadi konfirmasi pribadi atas pencapaian masing-masing. Saat itulah sang pelatih memberi penguatan, koreksi dan membantu mereka agar saat latihan mereka terarah dan lebih fokus. Berikut gambar skema proses membangu kepercayaan diri. Gambar 2. article001p2 Tentunya pengalaman satu pelatih dengan pelatih lainnya berbeda-beda. Lain gaya lain pula peran yang dilakoni. Tak semua peran yang saya tuliskan di atas dilakukan oleh satu pelatih, bisa saja kurang bisa pula lebih. Untuk itu baik sekali kalau ada sharing dan berbagi pengalaman. Saya pernah membaca buku yang menerapkan cara-cara seorang coach/ pelatih olahraga dalam suatu pola manajemen perusahaan yang terbukti berhasil. Sang manajer meniru cara kerja para coach dalam kepemimpinannya. Tak mudah memang, namun pastilah hasilnya sepadan. Carol Wilson (2011) dalam bukunya “Performance Coaching, Metode Baru Mendongkrak Kinerja Karyawan”, mendefinisikan coaching sebagai “Suatu profesi yang membantu individu atau organisasi untuk meraih kinerja optimal, mengatasi hambatan dan rintangan terhadap pertumbuhan, dan untuk meraih tujuan-tujuan spesifik dan tantangan-tantangan sebagai sarana pemenuhan, pengembangan pribadi dan professional, keseimbangan hidup dan karya, serta pencegahan” Dari rumusan yang cukup panjang tersebut, jika diambil kesimpulan secara sederhana adalah bahwa coaching merupakan profesi yang dimaksudkan untuk membantu perseorangan atau suatu organisasi dalam meningkatkan kinerjanya dengan mengatasi hambatan dan tantangan yang ada. Menurut para ahli manajemen, coaching pada intinya adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh para pimpinan untuk melatih para bawahannya guna meraih kinerja yang optimum dan mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi serta bagaimana memanfaatkan peluang yang ada. Coaching merupakan sarana untuk mengoptimalkan sasaran yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan peluang dan menghilangkan hambatan yang dapat mengganggu pencapaian kinerja. Melalui coaching, seorang coach (yang memberikan coaching) dapat meningkatkan kepercayaan diri coachee (orang yang diberikan coaching), baik dalam kehidupan organisasinya maupun dalam kehidupan pribadinya sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar bagi pencapaian kinerja organisasinya. Coaching menjadi alat yang penting dalam proses pengembangan kepribadian dan keprofesionalan seseorang, sehingga seorang pemimpin (atasan) diharapkan mampu menjadi coach yang baik kepada bawahannya. Nah, sudah sedemikian majunya penerapan ilmu kepelatihan ke dalam dunia bisnis, kiranya kita para pelatih bisa memetik balik dan belajar dari penerapannya di dunia bisnis kepada profesi kita sebagai pelatih. Salam olahraga, Banjarmasin 11 Juni 2015.

Advertisements
Istilah dalam Permainan Bola Basket

Istilah dalam Permainan Bola Basket

Pernah dalam beberapa acara Perbasi, saya hadir dan mendapat kesulitan karena mendengar istilah-istilah yang terdengar asing di telinga, namun mau tak mau harus dipelajari. Berikut ini tulisan yang dikutip dari: http://basketmipa.blogspot.com, sebuah blog bermutu yang banyak mengulas tentang bola basket. Semoga bermanfaat.

Seperti disiplin olah raga lainnya, bola basket mempunyai bahasanya sendiri. Halaman ini akan menjadi kamus bola basket, mencoba mendefinisikan istilah-istilah dalam bola basket. Jika seseorang mempunyai satu istilah baru yang ingin ditambahkan dalam daftar ini, silakan kirim email.

Pertama, perhatikan diagram “half-court” di bawah ini untuk mendefinisikan area pada lapangan basket. Area “paint” adalah area yang dibatasi oleh jalur free-throw, garis, baseline, dan garis free throw. Jika kaki seorang pemain offensive berada di area tersebut selama 3 detik atau lebih, maka dia akan dikenai pelanggaran 3-second. Sementara itu, tidak ada batasan waktu untuk pemain defensive berada dalam area paint.

@ Terminologi 1Gambar 1 Diagram half-court

Area “free throw” (dikenal juga dengan “charity stripe”) adalah garis di mana seorang pemain harus berdiri di belakangnya ketika melakukan shooting free-throw.

Area “low post” adalah area didekat “block” pada kedua area paint.

Area “high post” adalah area sepanjang garis free-throw dan kedua “elbow”.

Area “point” berada di depan, dan “wing” berada di kedua sisinya. Area “top of the key” berada di atas lingkaran free-throw. Area “short corner” berada di antara corner lapangan dan ring basket.

Istilah “ball-side” berhubungan dengan sisi dari lapangan di mana terdapat bola yang sedang dimainkan. Sebaliknya, “weak side” adalah sisi yang berlawanan dari bola tersebut. Pemain yang melakukan gerakan cut dari weak-side ke arah ring basket disebut dengan “back-door”.

Garis “10 second” atau garis “half-court” adalah garis yang berada di tengah-tengah lapangan. Garis tersebut membagi “full-court” (keseluruhan area permainan) menjadi dua half-court. Istilah “fore-court” adalah half court dengan ring basket kita, sedangkan “back-court” adalah half-court dengan ring basket lawan. Sekali sebuah tim mendapatkan penguasan bola, tim tersebut mempunyai waktu 10 detik untuk membuat bola melewati garis half-court menuju ke fore-court. Sekali melewati garis ini (bola dan kedua kaki), tim tersebut tidak boleh melakukan passing, dribbling bola, atau melangkah kembali melintasi garis tersebut (ketika mengusai bola). Jika hal itu terjadi maka akan dikenai pelanggaran “over and back”. Tetapi pemain offensive dapat memperoleh bola tanpa hukuman jika bola dipantulkan oleh pemain defensive.

Penomoran pemain dan istilah-istilah offensive

Pada sistem lama, nomor tidak digunakan. Biasanya pelatih mempunyai dua “guard” yang bermain di daerah “perimeter”. Pemain “center” biasanya bermain di sekitar area high post, dan dua “forward” bermain di area short corner sampai corner, yang juga kadang diperluas sampai area wing.

Sekarang, kebanyakan pelatih memakai sistem penomoran, sebagaimana sistem lama tidak sering diterapkan lagi, dengan pemain-pemain memainkan berbagai formasi offensive. Menggunakan sistem penomoran memudahkan pelatih dan pemain memahami strategi dan mengetahui peran mereka. Setiap pelatih mempunyai sistem penomoran mereka masing-masing. Di bawah ini adalah contoh sistem penomoran yang sering digunakan, yang sangat mudah dipelajari oleh para pemain muda. Diagram di bawah menunjukkan set formasi “3-2”.

@ Terminologi 2Gambar 2 Formasi 3-2

Pemain “point guard” adalah O1. Pemain wing kanan adalah O2, dan pemain wing kiri adalah O3. Pemain low post kanan adalah O4, dan pemain low post kiri adalah O5. Pemain O2 biasanya adalah “shooting guard”, O3 adalah “small forward”, O4 adalah “power forward”, dan O5 adalah “center”. Sistem ini sangat mudah dipelajari oleh pemain muda jika mereka diberitahu bahwa angka genap (2 dan 4) berada pada sisi kanan, dan angka ganjil (3 dan 5) berada pada sisi kiri.

Dalam set “1-3-1”, salah satu pemain low post akan berada pada daerah high post. Dalam set “1-4” kedua low post akan berada pada elbow, set ini disebut juga dengan “stack offense”, atau dapat juga kedua wing berada pada area corner (dikenal dengan “low stack”). Set “4-out, 1-in” dapat diterapkan dengan menggunakan empat pemain perimeter dan satu pemain post.

“Pick and roll” adalah situasi di mana seorang pemain offensive melakukan “screen” (atau “pick”) pada pemain defensive temannya, setelah itu, pemain yang melakukan screen bergerak, atau disebut dengan “roll”, menuju ke arah ring basket atau ruang yang tidak terjaga untuk menerima passing.

“Give and go” adalah situasi dasar di mana setelah seorang pemain melakukan passing ke temannya, akan dilanjutkan dengan gerakan cut menuju ke arah ring basket dan menerima kembali passing dari temannya untuk melakukan lay-up.

“Reverse the ball” berarti secara cepat memindahkan bola, dengan passing, dari sisi yang berlawanan pada fore-court, baik dengan menggunakan passing yang cepat atau dengan “skip pass” (passing secara langsung melintasi lapangan, yang berarti “skipping” satu atau lebih pemain offensive). Reverse the ball secara cepat dapat digunakan untuk melakukan “over-shift” suatu zone defense. Dengan memindahkan beberapa pemain offensive ke salah satu sisi lapangan (jika lawan menggunakan zone defense), maka kita sedang melakukan “over-load” pada zone defense tersebut.

“Post up” adalah gerakan offensive di mana seorang pemain low post memposisikan dirinya, dan melakukan “seal” pada pemain defensive-nya sehingga pemain tersebut dapat menerima passing di area block, dan melakukan “post move” untuk mencetak poin, atau melakukan passing cepat kembali ke pemain offensive lainnya yang tidak terjaga (dikenal dengan “inside-out”).

“Out-of-bound play” adalah istilah yang digunakan untuk menciptakan peluang menciptakan poin ketika bola dalam situasi “in-bound” (baik dari bawah ring basket atau di sepanjang sideline).

Istilah-istilah defensive

“Man-to-man defense” adalah cara melakukan defense di mana masing-masing pemain defensive ditugaskan untuk menjaga pemain lawan tertentu. Seorang pemain defensive dapat melakukan “switch” pemain yang dijaganya dengan temannya jika pemain tersebut sedang dalam situasi screen. Pemain defensive man-to-man harus memahami arti “on-ball” (menjaga pemain yang sedang menguasai bola), “deny” (mencegah pemain yang sedang dijaga memperoleh bola), dan “help-side” (melonggarkan penjagaan untuk membantu teman dalam mencegah “penetration” ke dalam oleh lawan). Istilah “close-out” adalah sebuah metode di mana seorang pemain defensive secara cepat melakukan slide mengarah ke pemain offensive yang sedang menguasai bola atau akan menerima bola.

Terdapat istilah “on the line” dan “up the line”. Dua istilah tersebut menunjukkan posisi pemain defensive di lapangan yang relatif terhadap pemain yang sedang menguasai bola dan pemain yang sedang dijaga. On the line berarti posisi pemain bertahan yang sedemikian rupa sehingga pemain tersebut dapat melihat pemain yang sedang mengusai bola dan pemain yang dijaga. Dalam situasi “full denial” posisi badan pemain defensive menghadap pemain yang dijaga dan kepala melihat ke arah bola dengan tangan berada pada jalur passing. Up the line berarti posisi di mana pemain defensive yang berada di belakang jalur passing sehingga dapat malihat pemain yang sedang menguasai bola dan pemain yang dijaga secara bersamaan. Posisi ini dapat mencegah “back-cut”. Semakin jauh jarak pemain yang menguasi bola dan pemain yang sedang dijaga maka pemain defensive dapat berada lebih di belakang jalur pasing, tetapi masih dalam posisi yang dapat memungkinkan untuk mencegah passing.

“Trap” adalah situasi di mana dua pemain defensive melakukan “double-team” pada pemain yang menguasai bola, mencoba untuk memaksa situasi “turn-over” atau “jump-ball”.

“Front the low post” merupakan gerakan yang harus dilakukan untuk menjaga pemain low post lawan. Pemain bertahan dapat berada di antara pemain low post dan ring basket, atau berada di antara pemain low post dan pemain yang akan melakukan passing, sehingga dapat melakukan “deny” terhadap passing.

“Box-out” adalah gerakan yang setiap pemain harus lakukan ketika seorang pemain offensive melakukan shooting. Gerakan ini dilakukan dengan menahan pemain yang sedang dijaga jauh dari ring basket dan mencegah pemain offensive mendapatkan “inside position” untuk melakukan rebound.

“Zone defense” merupakan strategi defensive yang menugaskan para pemain defensive menjaga area atau zona tertentu. Beberapa pelatih mengatakan ” a good zone looks like a man-to-man, and a good man-to-man looks like a zone”. Set zone defense yang sering digunakan antara lain 2-3, 3-2, 1-3-1, 1-2-2, dll. Sementara itu, istilah “zone offense” menunjukkan strategi offensive tim yang digunakan untuk mengalahkan zone defense.

“Transition” adalah proses perubahan dari defense ke offense, atau sebaliknya. Strategi “transition offense” dapat diterapkan dengan “fast break” atau “secondary break” di mana tim yang melakukan offensive secara cepat memindahkan bola ke area half-court lawan untuk memperoleh peluang melakukan lay-up dengan mudah. “Transition defense” dilakukan dengan kembali ke area half-court kita secepat mungkin atau menerapkan “full-court press” yang dapat dilakukan dengan man-to-man, atau “zone press”. Untuk melawan strategi defense full-court press, tim offense sering kali menerapkan strategi “press-breaker”.