Apa Saja Peran Seorang Pelatih?

Apa Saja Peran Seorang Pelatih?

Tulisan ini merupakan kelanjutan mandiri dari posting terdahulu berjudul MULTI PERAN SEORANG PELATIH. Kali ini saya ingin mendalami alenea pada tulisan terdahulu sebagai berikut: Gelar pelatih secara otomatis membuatnya harus menjalani beberapa peran sekaligus. Sebagai ayah/ ibu, pengarah, guru, pengasuh, pembelajar, pencatat, tempat bertanya (ensiklopedi berjalan), panutan, pemimpin, pelayan, sosok model/ teladan, penguat mental, teman, penolong, pengawas, hakim, pendukung, perawat, motivator, dan lain sebagainya. Nah, bagaimana penerapannya di dalam pelatihan? apakah peran tersebut hanya berlaku di lapangan saat latihan? bagaimana dan apa yang seharusnya dilakukan dan dijalankan oleh seorang pelatih? Tentu saja apa yang akan dilaksanakan seorang pelatih adalah pilihan bebas dari setiap individu, namun ada nilai-nilai yang berlaku dari berbagai sudut pandang menyangkut tugas, fungsi, peran, hak dan kewajiban seorang pelatih secara umum. Semoga ulasan ini bisa membantu dan tentunya saya tetap meminta saran masukan rekan-rekan pembaca yang budiman. 1. Sebagai ayah/ ibu, seorang pelatih menerima mandat atau titipan selama anak didik atau tepatnya anak latihnya berada di tempat latihan. Selama itu sang pelatih harus berperan pula sebagaimana layaknya orang tua bagi sang anak, memperlakukan mereka layaknya anak kandungnya sendiri. Tak perlu segan untuk menegur jika perilakunya tak patut, tapi juga dengan kasih sayang mengingatkan dan memberi teladan untuk bersikap seperti seharusnya seorang atlet yang baik. Memang ada batasan untuk sejauh mana sang pelatih menjalankan perannya, tentunya harus sesuai dengan kapasitasnya menjadi orang tua dalam konteks keolahragaan, sportmanship dan etika bersikap dan bergaul dengan sesama atlet maupun atlet dengan pelatih di lapangan maupun di luar lapangan. 2. Sebagai pengarah, pelatih harus senantiasa mengamati bakat dan potensi anaknya, untuk kemudian memberikan arahan yang tepat untuk berlatih hingga bermain secara maksimal. Sang pelatih juga dituntut jeli mengamati kelebihan dan kekurangan anak-anaknya. Mengeliminir kekurangan dan mengembangkan kelebihan-kelebihan mereka. 3. Sebagai guru, seorang pelatih serta merta menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Peran ini menuntut kemampuan komunikasi edukatif yang baik agar proses transfer keilmuan berjalan lancar. Dalam buku ajar kependidikan saja telah disebutkan sekian banyak peran guru, bagi seorang pelatih tentunya baik pula jika mau mempelajari sekilas dasar-dasar ilmu didaktik paedagogi. 4. Sebagai pengasuh, seorang pelatih sedapat mungkin memahami kebutuhan-kebutuhan, situasi-situasi khusus spesifik masing-masing anak. Misalnya saja, beberapa anak sulit menerima tipe pelatih yang tegas tanpa kompromi, sementara beberapa anak lain mungkin lebih menyukainya. Dalam hal ini, sang pelatih akan lebih berhasil jika juga menerapkan cara-cara yang lebih persuasif. (Situasi seperti ini mungkin banyak terjadi pada pelatihan tahap awal di usia dini).Dengan demikian seorang pelatih yang baik bukan hanya memiliki pola pelatihan yang baik, hasil pelatihan akan jauh lebih maksimal jika sang pelatih juga memiliki pola pengasuhan yang membuat relasi atlet-pelatih lebih sehat. 5. Sebagai pembelajar, dalam peran sebagai pembelajar seorang pelatih adalah seorang yang selalu terbuka dan mencari pengetahuan baru. Rajin membaca dan menggali pengetahuan-pengetahuan baru menyangkut perbolabasketan. Ia juga seorang yang berani mencoba dan inovatif, senantiasa berusaha maju. 6. Sebagai pencatat, setiap pelatih dituntut untuk memiliki catatan yang lengkap dan rapi mengenai pelatihan, paling tidak jurnal yang berisi pencapaian kemajuan program dan perkembangan anak latihnya. Kegiatan ini sering dianggap sepele namun sebenarnya sangat penting dan banyak membantu dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dengan kemajuan jaman sudah banyak alat bantu yang bisa mempermudah kegiatan pencatatan. 7. Sebagai tempat bertanya (ensiklopedi berjalan),sering terjadi pada pelatihan usia dini, namun dalam kenyataannya bahkan pada pelatih tim senior pun kejadian seperti ini masih sering terjadi. Tentunya kita tak dapat menguasai semuanya, jangan segan untuk mengatakan tidak tahu tapi setidaknya kita bisa memberikan saran kepada anak tentang bagaimana dan kemana mencari jawaban atau solusinya. 8. Sebagai panutan, ketika seorang pelatih telah memiliki kedekatan dengan anak-anaknya, apalagi ketika sosok sang pelatih setelah beberapa kali terbukti telah memberikan hasil positif bagi perkembangan kemampuan anak di lapangan, otomatis sosoknya berkembang menjadi panutan pula di luar lapangan. Telah terbukti bahwa ketika sang anak didik kemudian berhenti bermain dan lantas menjadi pelatih, gaya para pelatihnya yang terdahululah yang menjadi gayanya pula dalam melatih. 9. Dalam peran sebagai pemimpin, konteks yang saya maksudkan di sini bukan hanya dalam organisasi pelatihan tapi juga dalam hal tipe pemimpin bagaimana yang dilakoni sang pelatih. Pelatih yang berhasil selalu adalah pemimpin yang kuat dan berkarakter. Tak harus otoriter atau absolut, namun tak pula harus selalu demokratis. Ada saatnya pengambilan keputusan dilakukan secara kolektif, namun banyak juga keputusan diambil berdasarkan pertimbangan subyektif sang pelatih. Di sinilah letak pentingnya kemampuan analisis dan kecepatan mengambil keputusan. Keraguan hanya membuat anak-anak atau tim kebingungan, terutama saat bertanding; dan hakekatnya keputusan-keputusan yang diambil saat bertanding adalah pengejawantahan dari hasil pengambilan keputusan-keputusan saat proses pelatihan. 10. Sebagai pelayan, meski terletak di urutan kesepuluh bagi saya peran inilah yang paling vital dan mendasar. Sejak awal menyatakan kesanggupan untuk melatih, sesungguhnya saat itulah seorang pelatih seharusnya menyadari melatih adalah sebuah pelayanan atas dasar kecintaan pada bola basket. Bukan hanya bola basket sebagai sebuah permainan, namun secara menyeluruh berkaitan dengan setiap detail dari proses latihan hingga bertanding dan yang terpenting, hasil-hasil pengalaman selama latihan dan latihan itulah yang kemudian akan berpengaruh besar akan karakter setiap anak dalam menjalani kehidupan nyata di luar lapangan basket. Pengakuan peran bahwa melatih adalah peran sebagai pelayan juga mengandung nilai hakiki untuk sanggup melakoni peran secara rendah hati, ikhlas, arif dan bertanggungjawab terhadap sekian banyak perkembangan jiwa anak-anaknya. Hanya atas dasar komitmen inilah seorang pelatih mampu menunjukkan dedikasi dan integritas pribadinya; dan yang terpenting yaitu pengakuan peran sebagai pelayan ini pula yang membuatnya mempu melakoni belasan peran lain sebagai pelatih. 11. Sebagai sosok model/ teladan, ketika seorang pelatih telah menunjukkan dedikasinya sebagai pelatih, sebaliknya akan natural terbangun pula sikap respek anak-anak pada sosok sang pelatih. Sifat alami lanjutan adalah secara sadar atau tidak, sosok sang pelatih menjadi salah satu rawmodel dalam hidup mereka. Jika sang pelatih kemudian tak menyadari hal ini dan melakukan hal-hal buruk, naas lah nasib anak-anak latihnya. Mereka akan bingung jika sang rawmodel yang menjadi teladan menunjukkan kontradiksi sikap dan perilaku. Masih mending jika sang anak memiliki rawmodel lain yang kuat dan mampu menjadi pembanding dan yang mampu menjadi petunjuk bagi mereka untuk memilih teladan perilaku yang baik dan buruk. Hasilnya, gugurlah sikap respek anak-anak pada sang pelatih karena attitude yang buruk. Buruk pula proses dan hasil latihan, namun kiranya itulah yang terbaik bagi mereka. Dengan pemahaman akan peran pelatih yang kemudian menjadi sosok model/ teladan ini, haruslah seorang pelatih secara sadar senantiasa menjaga hati, perkataan dan perbuatannya. 12. Sebagai penguat mental. Meski tak harus banyak berkata-kata, kehadiran seorang pelatih tertentu yang terlihat oleh anak-anaknya hadir di sisi lapangan saja sudah mampu memberikan penguatan bagi anak-anaknya. Dalam hal ini, sang pelatih adalah juga menjadi anchor atau jangkar mental bagi anak-anaknya. Seperti inilah sesungguhnya salah satu peran penting seorang pelatih. Ikatan seperti ini hanya bisa berlaku pada hubungan pelatihan yang cukup lama, biasanya pelatih yang mampu memberikan penguatan hingga level seperti ini adalah pelatih yang sejak awal membentuk sang atlet. Pada kasus pemusatan latihan singkat, sangat jarang terjadi meski sang pelatih telah memiliki reputasi. Meski mungkin kepercayaan diri atlet meningkat karena reputasi sang pelatih, namun belum tentu sudah cukup tertanam mendalam dan belum teruji oleh pengalaman dalam situasi-situasi kritis. Peran sebagai penguat mental atlet adalah salah satu goal yang harus dicapai seorang pelatih. 13. Sebagai teman. Jika seorang pelatih telah berhasil mendapat kepercayaan dari anak-anaknya (saya selalu menyebutkan atlet binaan sebagai “anak-anaknya” karena demikianlah seharusnya seperti sudah dibahas pada point nomor 1), tak dapat dihindari lagi penerimaan beberapa anak yang pola asuh di rumah dengan orang tuanya cukup sehat sehingga menempatkan hubungan orang tua-anak juga sebagai teman, maka patron itu besar kemungkinannya terjadi pula dalam pola hubungan atlet-pelatih. 14. Sebagai penolong, proses latihan adalah sebuah siklus dimana seorang pelatih membantu anak-anaknya dengan melakukan beberapa tindakan mulai dari analisis atas potensi, kelebihan dan kekurangan atlet binaan, kemudian si pelatih menyusun asupan materi latihan yang sesuai, dan kemudian secara berulang-ulang menerapkannya pada proses latihan secara berulang-ulang untuk menanamkan serta mematangkan ketrampilan. Jalinan relasi selama proses itu menempatkan pelatih sebagai orang yang membantu anaknya untuk menemukan, menggali dan menampilkan potensinya secara maksimal. Di saat mereka lemah, pelatih memberi penguatan, di saat mereka jenuh si pelatih memberi hiburan, dan lain sebagainya; intinya si pelatih harus mampu membuat si anak membantu dirinya sendiri karena bukan sang pelatihlah yang akan menjalani pertandingan. Berikut gambar proses pelatihan. Gambar 1. pa 15. Sebagai pengawas,sepanjang proses latihan seorang pelatih juga menjalani peran sebagai pengawas yang senantiasa mengamati anak-anaknya. Ketika terjadi kesalahan, harus segera diberikan koreksi. Koreksi itulah yang menjadi point penting dalam latihan. Jika seorang pelatih lalai dalam mengawasi dan melakukan koreksi, ia gagal dalam melatih. Kurang pengawasan, kurang pula koreksi, kurangnya koreksi mengakibatkan munculnya kesalahan dalam bertanding. Itulah situasi yang paling dihindari oleh pelatih. 16. Sebagai hakim. Tindakan menghakimi mungkin adalah situasi yang dihindari oleh pelatih manapun, namun dalam kompleksnya hubungan antar pemain dengan pemain lainnya, kadangkala peran seperti ini tak terhindarkan. Sebab itu seorang pelatih dituntut sejak awal pelatihan untuk berlaku adil, proporsiaonal, fair dan terbuka. Jika seorang pelatih tidak bisa memperlihatkan sifat adil, ia akan kehilangan respek dan yang lebih buruk lagi hal itu akan mengancam keutuhan tim. 17. Sebagai pendukung, pada sebuah pertandingan sebaik apapun tim lawan, seburuk apapun permainan anak-anaknya; seorang pelatih harus selalu secara nyata memperlihatkan dukungannya kepada anak-anaknya. Sejak proses latihan ia juga harus selalu menunjukkannya kepada setiap anak dan kepada tim secara keseluruhan lewat kata-kata atau isyarat. Seruan penguat seperti “Ayo, kamu pasti bisa!” atau “Bagus! Itu yang saya mau”, atau jika penampilan mereka tidak maksimal, pelatih pasti kecewa tapi ungkapan emosional tak selalu memberi hasil baik. Lebih bermanfaat jika kita secara proporsional memberikan teguran, koreksi dan tetap memberikan penguatan dukungan. 18. Sebagai perawat, secara fisik dan mental seorang pelatih harus tahu kapan ia memaksa anak-anaknya melaksanakan porsi latihan yang sesuai dan kapan ia harus memberikan perawatan agar secara fisik dan mental kemampuan mereka tetap terjaga. Merawat dalam hal ini bukan hanya seperti perawatan atas cedera, tapi juga dengan memberikan saran tentang bagaimana seharusnya mereka beristirahat, bagaimana mereka mencukupkan asupan gisi, bagaimana mereka mencegah cedera, dan juga secara psikologis bagaimana pelatih memulihkan kepercayaan diri pemain dan tim secara keseluruhan. 19. Sebagai motivator, beberapa pelatih harus diakui lebih berhasil dibanding pelatih lainnya. Kemampuan untuk menjadi motivator tak dimiliki oleh setiap pelatih, hingga tak jarang sebuah tim memerlukan motivator profesional untuk menanganinya. Tanpa hubungan yang kuat antara atlet-pelatih, tak mudah pula motivasi ditanamkan. Bahkan seorang motivator profesional memerlukan waktu untuk mempelajari terlebih dahulu audiens-nya. Sebenarnya ketika hubungan atlet-pelatih terbangun, seorang pelatih bisa saja membantu atletnya untuk memotivasi diri dengan self motivation atau membangkitkan inner motivation. Mulai dari proses latihan, setiap atlet diminta untuk menetapkan goal setting masing, kemudian dalam prosesnya mereka akan mengalami failure dan success experience yang menjadi konfirmasi pribadi atas pencapaian masing-masing. Saat itulah sang pelatih memberi penguatan, koreksi dan membantu mereka agar saat latihan mereka terarah dan lebih fokus. Berikut gambar skema proses membangu kepercayaan diri. Gambar 2. article001p2 Tentunya pengalaman satu pelatih dengan pelatih lainnya berbeda-beda. Lain gaya lain pula peran yang dilakoni. Tak semua peran yang saya tuliskan di atas dilakukan oleh satu pelatih, bisa saja kurang bisa pula lebih. Untuk itu baik sekali kalau ada sharing dan berbagi pengalaman. Saya pernah membaca buku yang menerapkan cara-cara seorang coach/ pelatih olahraga dalam suatu pola manajemen perusahaan yang terbukti berhasil. Sang manajer meniru cara kerja para coach dalam kepemimpinannya. Tak mudah memang, namun pastilah hasilnya sepadan. Carol Wilson (2011) dalam bukunya “Performance Coaching, Metode Baru Mendongkrak Kinerja Karyawan”, mendefinisikan coaching sebagai “Suatu profesi yang membantu individu atau organisasi untuk meraih kinerja optimal, mengatasi hambatan dan rintangan terhadap pertumbuhan, dan untuk meraih tujuan-tujuan spesifik dan tantangan-tantangan sebagai sarana pemenuhan, pengembangan pribadi dan professional, keseimbangan hidup dan karya, serta pencegahan” Dari rumusan yang cukup panjang tersebut, jika diambil kesimpulan secara sederhana adalah bahwa coaching merupakan profesi yang dimaksudkan untuk membantu perseorangan atau suatu organisasi dalam meningkatkan kinerjanya dengan mengatasi hambatan dan tantangan yang ada. Menurut para ahli manajemen, coaching pada intinya adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh para pimpinan untuk melatih para bawahannya guna meraih kinerja yang optimum dan mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi serta bagaimana memanfaatkan peluang yang ada. Coaching merupakan sarana untuk mengoptimalkan sasaran yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan peluang dan menghilangkan hambatan yang dapat mengganggu pencapaian kinerja. Melalui coaching, seorang coach (yang memberikan coaching) dapat meningkatkan kepercayaan diri coachee (orang yang diberikan coaching), baik dalam kehidupan organisasinya maupun dalam kehidupan pribadinya sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar bagi pencapaian kinerja organisasinya. Coaching menjadi alat yang penting dalam proses pengembangan kepribadian dan keprofesionalan seseorang, sehingga seorang pemimpin (atasan) diharapkan mampu menjadi coach yang baik kepada bawahannya. Nah, sudah sedemikian majunya penerapan ilmu kepelatihan ke dalam dunia bisnis, kiranya kita para pelatih bisa memetik balik dan belajar dari penerapannya di dunia bisnis kepada profesi kita sebagai pelatih. Salam olahraga, Banjarmasin 11 Juni 2015.

Advertisements
MULTI PERAN SEORANG PELATIH

MULTI PERAN SEORANG PELATIH

Tuntutan Peran Seorang Pelatih

Banyak kali kita mendengar orang dengan bangga mengatakan dirinya sebagai pelatih atau coach. Ya, patut dan haruslah demikian. Menjadi pelatih adalah sebuah privilese, keistimewaan yang juga sekaligus sebuah beban. Keistimewaan itu melekat dan bersama banyak hak, sementara itu tersandang juga sejumlah kewajiban yang tak terpisahkan dan seringkali merupakan efek bolak-balik.

Seorang pelatih selayaknya mendapat respek, namun sang pelatih harus membuktikan bahwa ia memang patut mendapat respek. Harus mampu membuktikan bahwa sang pelatih memang layak menyandang gelar pelatih.

Gelar pelatih secara otomatis membuatnya harus menjalani beberapa peran sekaligus. Sebagai ayah/ ibu, pengarah, guru, pengasuh, pembelajar, pencatat, tempat bertanya (ensiklopedi berjalan), panutan, pemimpin, pelayan, sosok model/ teladan, penguat mental, teman, penolong, pengawas, hakim, pendukung, perawat, motivator, dan lain sebagainya.

Saat awal melatih dulu tak banyak yang saya tahu tentang ilmu kepelatihan, setelah mulai belajar makin banyak pula yang tidak saya ketahui. Saya hanya melatih dengan meniru segala sesuatu yang pernah saya terima dari pelatih saya. Setelah dilatih oleh beberapa pelatih, secara otomatis mulailah berproses membanding-bandingkan mereka. Intinya semua baik, namun ada cara yang cocok untuk situasi dan anak didik tertentu dan ada yang tidak.

Pada sebuah proses pelatihan yang efektif, terpusat atau tidak, ada 4 macam aspek materi yang harus perhatikan yaitu: aspek latihan fisik, aspek asupan nutrisi (termasuk penataan istirahat agar asupan nutri berjalan efektif), aspek latihan teknik dan aspek pembinaan mental.

Untuk menjadi pelatih yang baik, sekurangnya memahami dasar-dasar ilmu anatomi fisiologi tubuh (meliputi pula proses-proses pernafasan, pencernaan, peredaran darah, biomekanik, kinetik, , dll), ilmu nutrisi (termasuk energetika), psikologi, statistika, dan ilmu lain dalam lingkup keolahragaan seperti tes dan pengukuran, kebugaran, penanganan cedera, periodisasi latihan, unsur-unsur biomotorik, dan seiring perkembangan jaman mau tak mau memahami pula teknologi informatika, dan lain sebagainya. Terlalu rumit? terlalu banyak menuntut? iya, benar dan demikianlah kenyataannya. Itu pula sebabnya sekarang tercipta berbagai bidang spesialisasi pelatihan. Ada pelatih spesialis physical conditioning, spesialis plyometrik, spesialis periodisasi latihan, Itu pula yang membuat menjamurnya lembaga konsultan pelatihan yang terdiri dari dokter spesialis olahraga, psikolog olahraga, ahli tes dan pengukuran biometrik, ahli biomekanik dan kinetik, hingga motivator profesional.

Seiring dengan perkembangan olahraga profesional, bukan hanya atlet yang dituntut lebih profesional, demikian pula para pelatih. Beberapa cabang olahraga kini melibatkan unsur bisnis dan mencakup perputaran uang yang sangat besar. Seorang atlet elite unggulan bisa dibayar hingga ratusan milyar, kalangan demikian tentunya meminta jasa kepelatihan yang elite pula. Serba kelas satu dan menerapkan teknologi tertinggi dalam olahraga. Mampukah kita menjangkau level demikian? Tidak mudah tentunya. Tapi paling tidak, perkembangan profesionalisme dan teknologi membuat banyak ilmu pengetahuan yang mereka propagandakan menyebar luas lewat internet dan berbagai publikasi. Dengan mudahnya siapa saja bisa mengunduh berbagai bahan. Cocokkah bahan-bahan dari mereka itu kita terapkan? tentu tidak semuanya. Namun celakanya tidak semua pelatih tahu mana teknologi dari internet yang bisa diterima dan diterapkan atau tidak.

Contohnya saja penerapan plyometrik yang belakangan populer di kalangan olahraga. Tanpa pengetahuan yang memadai, penerapannya pada anak didik malah bisa menjadi bumerang. Bukannya membuat performa atlet kita menjadi lebih baik, salah-salah malah jadi rusak. Penerapan plyometrik yang berarti “peningkatan secara terukur” harus diterapkan secara terukur dan spesifik, bisa diterapkan pada level usia, tertentu, kesiapan fisik tertentu dan kematangan psikologis tertentu. Tanpa pemahaman yang benar anatomi dan fisiologi tubuh, tes dan pengukuran, pencegahan cedera, asupan nutrisi, serta pemrograman yang spesifik; lebih baik jangan bereksperimen dengan anak didik kita.

Seorang pelatih yang bijaksana takkan pernah berhenti belajar dari mana saja, termasuk atlet binaannya. Tak pernah berhenti memetik dan juga merenung. Senantiasa belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun belajar dari pengalaman pelatih lainnya. Ia juga senantiasa terbuka dan bersedia mencerna berbagai pengetahuan baru, menyerap yang bermanfaat dan membuang yang tidak berguna.

Apakah sebenarnya hal pertama yang kita pelajari kala kita mulai melatih? Menurut hemat saya, hal pertama yang kita pelajari adalah atlet binaan kita itu sendiri. Mulai dari siapa dia? tumbuh dimana dan bagaimana riwayatnya? sebagaimana bugarkah dia? bagaimana ukuran-ukuran kemampuan geraknya? sebagaimana matang tekniknya, apa yang kurang dan apa yang lebih?

Setelah menjawab pertanyaan observatif tersebut secara terukur, mulailah kita melakukan sejumlah analisa untuk menelaah apa-apa yang harus kita berikan dengan terlebih dahulu menyusun urutannya secara rasional dan bertanggungjawab.

Pertanyaan berikut, bagaimana kita menerapkannya? Kapan mulai dan kapan berhenti? Seberapa intensif, berapa ukuran intensitasnya? Bagian spesifik apa yang menjadi prioritas? Tentunya jawaban-jawabannya tersusun pada sebuah program yang secara rinci menguraikan detil-detil program yang tersusun dalam periodisasi spesifik.

Sepanjang eksekusi program, seorang pelatih tak henti-hentinya mengamati, mengukur, mengoreksi, mengarahkan, membina, memotivasi sekaligus mengasuh anak didiknya agar senantiasa serius dan fokus. Tak mudah melakoni semua itu secara berbarengan. Menuntut pencurahan perhatian penuh dari sang pelatih. Pencurahan penuh akan menimbulkan masalah baru bagi beberapa pelatih, bagaimana dengan tuntutan lain selain pelatihan? Tuntutan ekonomi, tuntutan peran lain sebagai ayah, tuntutan peran sebagai suami, dan lain sebagainya. Jika dilakukan secara amatiran, bisa-bisa malah semua berjalan tak maksimal. Jika dilakukan secara profesional, apakah imbalan yang didapatnya cukup untuk menutupi semua kebutuhan lain? Mungkin hanya sedikit dari kalangan elite yang bisa menjawab ya, dan jika terjawab tidak; bisa kita bayangkan pengorbanan seorang pelatih.

Dibilang cukup atau tidak, tentu sulit diukur, namun saya meyakini, jika bukan karena cinta, takkan tercurah dedikasi.

Pelatih yang Mantan Atlet atau Pelatih yang Sekolahan?

Kenapa banyak atlet yang kemudian jadi pelatih? Pada banyak kejadian yang saya lihat, beberapa di antaranya terjadi karena sifat kompetitif seorang mantan atlet yang sudah lewat usia prestasi tapi masih ingin berkompetisi. Maka ia menjadikan proses pelatihan sebagai kompensasi, menyalurkan hasrat berkompetisi lewat anak didiknya. Faktor lain mungkin karena kecintaan dan dedikasi pada olahraga yang dicintainya itu. Ha ha ha … ini hanya sebuah sudut pandang pribadi saya, tidak terbukti secara empirik dan belum pernah pula diteliti.

Pada banyak cabang olahraga, banyak pelatih sukses adalah mantan atlet yang kemudian sekolah untuk mendapatkan lisensi (yang konon kabarnya, di belahan barat sana amatlah sulitnya). Asisten-asisten merekalah yang pelatih yang benar-benar sekolah (olahraga). Sementara berteman dengan beberapa teman yang juga sarjana olahraga, saya mengamati bahwa ilmu keolahragaan sang mantan atlet jelas kalah jauh, hanya saja teman yang sarjana olahraga itu tidak se”pede” teman yang mantan atlet. Teman pelatih saya yang mantan atlet terlihat amat menguasai lapangan, bahkan para pemain binaannya sudah respek duluan dengan reputasi sang pelatih yang mantan atlet. Padahal kalau bicara ilmu-ilmu olahraga dia tak sepandai pelatih yang sekolahan, namun dalam aspek teknik dan pengalaman sang mantan atlet memang tak terkejar. Ketika memperagakan gerakan, ketika mengoreksi dan mengarahkan tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam sebuah game, sang mantan atlet jelas unggul. Tapi hati-hati, kalau ke”pede”an, bisa-bisa program yang disusunnya ngawur, berderet-deret atletnya rontok karena cedera, performa teknik bagus namun dengan fisik alakadarnya karena salah latihan membuat level kebugarannya rendah.

Jadi bagaimana baiknya? Mungkin sang mantan atlet ya harus paham tuntutan profesionalisme yang meminta ilmu dan wawasan keolahragaan dan belajar dari guru yang mumpuni. Bagaimana dengan sang pelatih yang sarjana olahraga? Sebaliknya ya harus belajar banyak pula tentang cabang cabang olahraga yang dilatihkannya. Tentunya perlu waktu yang lebih lama dibanding waktu yang diperlukan seorang mantan atlet yang belajar ilmu olahraga meski tak sedalam sang pelatih yang sarjana olahraga. Kombinasi  tim pelatih antara seorang pelatih yang mantan pemain dan seorang pelatih yang sekolahan adalah konsep idealnya. Memang sebuah tantangan untuk sekolah-sekolah keolahragaan.

ILMU KEDOKTERAN OLAHRAGA: GERAK

ILMU KEDOKTERAN OLAHRAGA: GERAK

Prof. Dr. dr. Muchsin Doewes, PFarK, MARS, AIFO

 

Ada 2 macam alat gerak dalam tubuh kita, yaitu alat gerak pasif dan aktif. Alat gerak pasif meliputi tulang dan sendi, sedangkan alat gerak aktif adalah otot. Yang berperan sebagai penyuplai oksigen adalah sistem respirasi dan sistem kardiovaskular. Oksigen diedarkan ke seluruh tubuh dengan mengendarai Hb.

Intermezzo sedikit ya. Eritrosit hidup secara anaerob. Meskipun membawa oksigen dalam sirkulasi, eritrosit tidak pernah menggunakan oksigen itu untuk dirinya sendiri. Ini yang menarik, bahkan salah satu struktur penyusun tubuh kita tidak pernah melakukan korupsi, malah berbagi 100% dari apa yang dimilikinya. Luar biasa ya eritrosit, hidup 120 hari untuk berbagi. Selalu ada hikmah kan di balik setiap yang terjadi pada diri kita, jadi mari belajar dari eritrosit =).

Kembali lagi ke bahasan utama. Sistem pengontrol utama alat gerak kita adalah sistem saraf & hormon. Sebenarnya masih banyak sistem penunjang yang lain, tapi fungsinya tidak sesignifikan kedua sistem di atas.

Sebelumnya perlu diketahui dulu ya teman-teman, dalam posting kali ini kita membahas faktor internal dari olahraga. Mengenai faktor eksternal (misalnya cedera karena ketendang lawan) nanti masuknya ke sport injury. Agar lebih jelas, rumusan masalah di kuliah kali ini adalah bagaimana cara tubuh merespon tuntutan fisiologis yang tinggi terhadap aktivitas fisik?

Pertama, kita bahas dulu mengenai cara koordinasi sistem otot dan sistem saraf dalam menghasilkan gerakan tubuh. Ingat-ingat lagi yuk, kornu posterior medula spinalis berfungsi sebagai penghantar impuls sensorik, sedangkan kornu anterior berfungsi sebagai motor yang menggerakan otot (motorik).

Ked 1

Ketika suatu otot mengalami peregangan (misalnya saat mengangkat barang), akan terjadi impuls aferen dari stretch receptor ke medula spinalis. Impuls ini kemudian akan diteruskan menjadi impuls eferen ke motor neuron yang menyebabkan kontraksi dari otot yang mengalami peregangan (stretching) tadi, tujuannya adalah agar regangan otot tidak berlebihan. Nah, tidak berhenti sampai di sini teman-teman. Kita tidak mengharapkan kontraksi untuk proteksi ini menjadi berlebihan kan? Untuk itu di dalam tubuh kita tersedia mekanisme yang menginhibisi kontraksi ini agar tidak berlebihan oleh Golgi tendon organ/organ tendon Golgi.

Ked Or 2

Tonus otot yang tinggi akibat kontraksi akan mengaktivasi neuron sensorik. Neuron sensorik ini kemudian menstimulasi interneuron yang kemudian akan menghambat motoneuron. Ketika motoneuron dihambat, tonus otot dapat dikurangi.

Jadi apa sebenarnya organ tendon Golgi ini? Organ tendon golgi adalah reseptor sensorik propioseptif yang terletak pada serabut otot dari otot skelet bertemu dengan tendon. Terdiri dari untaian kolagen, organ tendon Golgi juga mengandung jaringan saraf. Fungsi utamanya adalah untuk merasakan ketegangan otot ketika otot berkontraksi, mengirimkan sinyal ke otak mengenai seberapa besar kekuatan yang dikeluarkan dan di mana tempatnya.

Teman-teman sekalian, kita sudah tahu kan bahwa pusat motorik itu terletak di gyrus centralis anterior. Nah, jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan pergerakan kita nanti akan berawal dari sini. Pada aplikasinya nanti, pergerakan otot dari sistem neuromuskular akan dipengaruhi oleh terpacunya sistem endokrin sebagai pengontrol keseimbangan energi yang kemudian menimbulkan respon sistem kardiovaskular sebagai pensuplai oksigen dan termoregulator, bersamaan dengan terjadinya perubahan metabolisme yang menghasilkan energi yang penting untuk pergerakan (movement).

Tahukah Anda, kecepatan saraf kita mencapai 100 meter/detik lho. Betapa menakjubkan koordinasi dari sel-sel sekecil itu dapat menghasilkan kecepatan yang luar biasa. Kecepatan ini terutama bisa dihasilkan oleh organ-organ yang memiliki banyak persarafan. Jika kita melihat gambaran replika homunculus (ada sensorik dan motorik), banyaknya stimulasi saraf pada bagian tubuh digambarkan dengan ukuran tubuh tertentu yang besar. Sedangkan ukuran yang lebih kecil menggambarkan stimulasi saraf yang lebih sedikit. Penyesuaian-penyesuaian ini tidak hanya pada tingkat organ/sistem, tetapi juga pada level sel maupun level molekular. Misalnya: pada kontraksi otot biceps sewaktu angkat beban 20 kg terjadi:

  1. Serat saraf otak (neuron motorik) menyalurkan impuls listrik turun ke medula spinalis menuju ke arah lengan à tingkat sel.
  2. Setelah mencapai m. biceps, neuron-neuron ini melepaskan chemical messenger (Ach) menyeberangi celah antara saraf dan otot à tingkat molekular.
  3. Impuls listrik menyebar ke sepanjang serat otot yang aktif, masuk ke dalam serat melalui pori-pori kecil.

Nah, sudah jelas kan. Jadi impuls listrik mengaktifkan proses-proses kontraksi otot yang nantinya akan melibatkan aktin-myosin dan sistem energi. Sekarang kita membicarakan tentang kontraksi otot ya teman-teman. Bayangkan kita sedang berdiri tegak dengan barbel di tangan kanan kita. Ketika barbel itu kita angkat dengan cara menekuk siku, muskulus biseps mengalami kontraksi konsentris. Kontraksi konsentris adalah kontraksi otot di mana serat otot memendek. Ketika siku tangan yang memegang barbel ini diluruskan kembali, terjadi kontraksi eksentris pada muskulus biseps. Disebut eksentrik sebab serabut–serabut otot memanjang ketika berkontraksi.

Ked Or 3

Kita refreshing sedikit ya mengenai 5 sila utama di dunia per-otot-an:

Sila 1: whole muscle

Sila 2: fasciculus

Sila 3: muscle cell

Sila 4: miofibril

Sila 5: actin & myosin

Ked Or 46 komponen yang terlibat dalam kontraksi otot:

  1. Myosin
  2. Aktin
  3. Troponin
  4. Tropomyosin
  5. ATP
  6. Kalsium

Fungsi dan mekanisme kerjanya? Gambarannya kira-kira seperti di bawah ini.

Ked Or 5

Myosin yang berbentuk seperti tongkat golf, akan berkontraksi dan mengikatkan diri pada aktin. Masih ingat kan dari kuliah tanggal 29 Oktober dulu. Di permukaan aktin terdapat titik-titik seperti pentil yang pada saat istirahat ditutup oleh tropomyosin. Di gambar, tropomyosin ini yang bentuknya seperti tali panjang warna kuning. Tropomyosin ini punya satpam yang bertugas untuk mengunci agar tidak bergeser dari tempatnya, disebut troponin. Ketika kontraksi, troponin akan berikatan dengan Ca sehingga kunci troponin terbuka dan tropomyosin bergeser. Pada saat yang bersamaan, myosin berkontraksi dan berikatan dengan aktin pada bagian yang tadinya tertutup oleh tropomyosin. Selanjutnya myosin menarik aktin sehingga terjadi sliding yang menyebabkan pemendekan sarkomer.

Peristiwa kontraksi memerlukan energi. Energi untuk kontraksi otot skelet disediakan oleh energi yang dihasilkan melalui hidrolisis senyawa berenergi tinggi (=high-energy compound) yaitu ATP. ATP ini kemudian akan dipecah dengan bantuan myosin ATP-ase menjadi ADP, fosfat inorganik (Pi), dan energi. Myosin ATP-ase adalah katalis protein globular kompleks yang dapat mempercepat reaksi kimia sampai 1012-1022 kali lebih cepat bila dibanding tanpa katalis, pada suhu 37 derajat Celcius.

Dalam 1 rangkaian kontraksi diperlukan 3 ATP yang masing-masing berfungsi untuk:

  1. untuk cross bridge
  2. untuk relaksasi miosin & reposisioning myosin
  3. mengembalikan Ca ke terminal sisterna.

Bagaimana penggunaan energi dalam tubuh kita? Empat puluh lima persen energi digunakan untuk ACTION (tergantung organnya, misalnya kontraksi otot, sistol jantung, dan peristaltik usus). Sedangkan 55% digunakan untuk panas. Sehubungan dengan penggunaan energi, ada istilah hypodinamic disease nih teman-teman. Ini adalah penyakit yang salah satu penyebabnya adalah kurang gerak, sehingga energi yang dihasilkan tidak dikeluarkan. Contohnya DM dan obesitas.

ATP adalah energi instan yang sudah ada di tubuh, hanya saja jumlahnya sedikit dan hanya bisa sekali pakai dan karenanya harus diresintesis terus-menerus kalau latihannya berlangsung lebih dari beberapa detik. Maka diperlukan sistem energi untuk membentuk ATP lagi. Ada 3 jalur metabolisme ATP:

  1. Sistem Phosphocreatine (PC), mencakup perubahan fosfat berenergi tinggi dari PC untuk merefosforilasi ADP menjadi ATP. Sistem energi ini digunakan dalam fase cepat, sekitar 15-20 detik karena pembentukannya hanya memerlukan 1 enzim, yaitu kreatin kinase. ADP yang berasal dari pemecahan ATP akan diresintesis kembali (ADP + PC à ATP + C). Namun, kuantitas PC yang ada dalam sel terbatas, sehingga kadar total ATP yang dapat diproduksi melalui mekanisme ini juga terbatas.
  2. Sistem glikolisis/lactic acid system (sistem LA), terdapat dalam sitoplasma sel otot. Glikolisis adalah degradasi karbohidrat (glikogen atau glukosa) menjadi piruvat atau laktat (melibatkan serangkaian langkah yang dikatalisis enzim). Sistem energi ini dapat bertahan sampai kurang dari 90 menit. Menghasilkan 2 ATP.
  3. Aerobic oxidation atau oksidasi aerobik. Di dalamnya termasuk siklus krebs dan fosforilasi oksidatif yang terletak di mitokondria. Sistem energi ini menghasilkan ATP paling banyak (36 ATP, di samping produk lainnya yang berupa H2O dan CO2).

Gampangannya seperti ini:

1 detik à ATP

15-20 detik à ATP-PC

< 90 detik à LA sistem

> 180 detik (3 menit) = sistem aerobik

Sistem ATP-PC dan LA termasuk sistem energi anaerob, sedangkan aerobic oxidation sudah jelas aerob lah ya. Berbeda dengan glikolisis, metabolisme aerob dapat menggunakan lemak, protein, dan karbohidrat sebagai substrat untuk memproduksi ATP.

Nah, lalu apa yang dimaksud dengan olahraga anaerob? Pertanyaan bagus nih, soalnya bisa bikin kita diem sambil ngarep dikasih tau jawabannya =D. Berdasarkan Prof. Muchsin, olahraga yang menggunakan sistem energi di luar mitokondria termasuk olahraga anaerob. Tapi tunggu dulu, yang mempengaruhi apakah suatu olahraga itu aerob atau anaerob bukan jenis olahraganya, tapi tergantung masing-masing orang (kapasitas aerob atau VO2 max). Perlu diperhatikan bahwa intensitas latihan menentukan jalur metabolisme. Contoh, jalan cepat selama 30 menit bagi orang-orang yang terlatih, merupakan olahraga aerob. Sedangkan bagi beberapa orang yang tidak terbiasa berlatih, maka ini termasuk olahraga anaerob.